Kamis, 03 Juli 2014

‘Sepi’ namanya

-2 Juli 2014-
Kesendirian yang menyesakkan, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain terus bersamanya. Menjamahnya hingga ia menelusup jauh ke dalam batinku. Aku sengaja membiarkannya bermain-main di dalam hatiku, berlarian kesana-kemari. Biarpun cuma sepi, tapi ia ada dan hidup dalam relung hatiku. Setidaknya dengan begini ia dapat selalu menemaniku kapanpun aku menangis atau diam tak bersuara. Ia yang lagi bermain-main menarik perhatianku, seketika aku terbius dan ikut bermain dengannya. Aku diajaknya pergi ke tempat-tempat yang bagiku begitu istimewa, aku mendengarnya bernyanyi dan menyaksikannya bercerita. Tapi, dari semua kegiatannya ia lebih sering bercerita. Katanya, bercerita adalah hal yang paling baik dilakukan ketika seseorang telah banyak menyimpan sesuatu. Biasanya ia bercerita tentang petualangannya, perjalanannya yang katanya begitu panjang atau tentang awal bagaimana ia terlahir. Aku selalu mendengarkannya, menyimak setiap kalimat yang ia ucapkan. Apalagi yang harus kulakukan? Kupikir ini lebih baik, daripada aku merana dalam kesendirianku, seorang diri. Terkadang aku hampir mati dalam keadaan begini. Aku hanya bisa berkoar sendiri, menangis lalu terdiam dan berulang seperti ini setiap kali aku sendiri. Sedih, miris.
Katanya, ia terlahir karna panggilan. Ia memberitahuku bahwa jiwaku yang memanggilnya kemudian ia tercipta dan datang untuk menemaniku. Tangan jiwaku menggenggam erat tangannya, lalu seketika mengajaknya pergi untuk tinggal bersama jiwaku. Ia tidak menyesal ataupun berontak, justru ia senang memiliki teman seperti jiwaku. Belum ada yang bahagia secara tiba-tiba melihat keberadaanya, sebagaimana bahagianya yang ditampakkan oleh jiwaku. Senyum jiwaku buat ia luluh dan dengan begitu saja menuruti permintaan apa maunya jiwaku.
Lalu katanya, sebelum aku menyadari kehadirannya. Ia sempat bertualang kesana kemari. Melanglang buana hampir ke seluruh tempat di dunia. Ia tidak ingin memaksaku yang belum tahu apa-apa. Ia juga tidak ingin meminta-minta dan berharap yang mengemis-emis supaya aku menemaninya. “Biar aku tunggu hingga kau menyadari keberadaanku”, katanya.
Ia melanjutkan ceritanya, tentang destinasinya dan tentang perasaannya ketika melakukan itu. Ia bilang, ia sangat menikmatinya. Perjalanan yang panjang dan menyenangkan. “Aku bertemu banyak orang dan semuanya mengesankan” tukasnya. Matanya kini menerawang jauh sekali seolah ia merasakan kembali pengalamannya itu. “Pertama kali memutuskan untuk bertualang, aku pergi saja tanpa tahu tempat itu apa namanya bahkan hingga sekarang kukira aku belum juga mengetahui nama tempat yang pertama kali ku kunjungi itu.
“Aku melihat bentuk senyum terbalik di awan, lengkungannya indah dan ia memiliki beraneka warna. Ia seperti menerobos di sela-sela awan, lalu aku mengamatinya, mengikuti arahnya di mana ia berujung. Panjang sekali, ternyata ujungnya bersentuhan dengan air, air yang deras, besar dan keras jatuhnya. Dulu, aku belum tahu apa namannya itu tapi, sekarang aku tahu bahwa yang memiliki warna bermacam-macam itu adalah pelangi dan air yang besar itu namanya air terjun. Oh, aku seakan terpesona, indah sekali. Aku tidak henti-henti melihatnya bahkan untuk beranjak barang sebentar rasanya aku enggan. Lama kelamaan, pelangi itu warnanya memudar dan hilang. Saat itu, aku serasa dicampakkan. Ah! Mengapa ia mesti hilang? Apa ia tak suka bila aku melihatnya lama-lama?!
“Dari situ aku mengerti, tiba-tiba saja. Pernah terngiang dalam ingatanku ada seseorang yang bicara perihal keadaan di dunia. Aku, mengapa bisa dapat ilham itu mungkin karna aku sesuatu yang terlahir dari reinkarnasi juga. Katanya, dunia itu palsu belaka dan kamu hanya diuji hidup di dalamnya. Mungkin ini maksudnya, bahwa keindahan dunia itu hanya sementara tidak akan selamanya.”
Seperti itulah jika ia berbicara, seperti sedang berkhutbah. Kemudian ia bercerita tentang perasaannya. Ia sempat merasa kesepian juga, katanya. Nah! Sepi juga dapat merasakan sepi. Jika ia kembali ke tempatku dan melihatku, ingin rasanya ia memelukku. Memberitahuku bahwa aku yang selalu menemanimu, kemari bersamaku. Tapi, selalu ia urungkan niat itu. Kala itu, ia melihatku sedang bahagia, teramat bahagia setiap hari sepanjang waktu. Ia tak ingin mengusikku biar sedetik pun.
“Saat itu, aku tak lantas meratap. Aku pergi lagi. Berjalan saja, berlalu supaya tak melihatmu dulu tapi, aku akan menjagamu dengan telepati. Aku bertemu nenek tua, ia sangat renta. Jalannya membungkuk, ada gundukan di punggungnya yang membuat ia sulit untuk berdiri tegak layaknya manusia-manusia lain. Ia memakai tongkat dan jalannya selalu terengah-engah. Ia tak bisa sering melihat ke depan, karna persoalan bungkuknya tadi. Ia lebih banyak menunduk jika ia kelelahan menghadap ke depan. Melalui tongkatnya ia raba tubuh jalanan. Aku tahu ia sangat lelah, lelah sekali.
“Dari situ aku memahami satu hal lagi. Hidup itu akan semakin sulit jika seseorang yang tertimpa masalah terus saja mengeluh. Betapa mengerikannya saat kau meniti arang panas dan kau egois inginnya bertelanjang kaki. Padahal dengan alas kaki, kau bisa saja seketika berlari sehingga panas itu tak kau rasakan sedikitpun.”
                                                                        ***
Tiada hari tanpa persoalan, masalah serasa datang silih berganti. Satu hal yang amat menyakiti, kesendirian. Segala masalah kukira, akan jadi mudah jika ada banyak orang yang selalu menemani dan mendukung kita. Tapi, sendiri? bagaimana bisa seseorang melewati masalahnya?. Tidak ada tempat untuk berbagi, meminta saran atau solusi mengenai masalah yang lagi dihadapi. Aku merasakan hal itu, di tempat aku tinggal hanya ada satu petak ruangan dan berisi barang-barang yang semuanya benda mati. Hanya aku yang hidup karna aku seorang manusia. Aku tidak mungkin berbicara dengan benda-benda mati itu, hal yang percuma pikirku. Sampai aku berteman dengan sepi. Ia mau jadi pendengar setiaku, mendengar keluh kesahku. Ia pernah bilang, bahkan sebelum aku memberitahunya pun ia sudah tahu apa yang hendak aku bicarakan. Ia hanya menegaskan karna ia adalah sesuatu yang telah hidup di dalam jiwaku jadi mana mungkin ia tak tahu segala isinya.
“Dengar. Meskipun namaku sepi tapi aku bahagia. Tuhan menciptakanku tidak sia-sia karna aku dihadirkan untuk menemanimu. Nanti, saat kau tidak lagi merasakan kesendirian dan semangat lagi menapaki hidupmu. Aku akan pergi karna memang begitulah seharusannya. Aku bisa merasakannya, hatimu semakin kuat saja dan perlahan keadaanmu membaik. Aku yakin tak lama lagi kau akan dapatkan impianmu. Kau lebih tegar dari yang kutahu. Aku bisa lihat itu dari matamu. Berjuanglah untuk cita-citamu. Akan ada saatnya dimana masalah bereinkarnasi menjadi sebuah keajaiban. Memberikan harapan baru bagimu dan membuatmu tersenyum lagi.”
Kau benar, iya. Aku semakin tegar dan tidak mudah lagi menangis. Itu semua juga berkat kehadiranmu. Kau menunjukkanku cahaya itu di mana harapan mengundangku untuk melintasi jalannya. Dan ketika aku mulai meniti jalan itu, kutahu kau mulai jarang menemaniku. Aku hanya melihatmu sesekali dan hilang tanpa kusadari. Tapi kaki ini ingin selalu berjalan, melangkah ke depan sehingga aku tetiba mengabaikanmu. Aku tidak ingin melihat ke belakang karna kau juga mengajarkanku itu. Aku tahu kau ada di belakangku atau juga tidak pada saat itu. Yang jelas cahaya itu kini makin benderang di depanku. Aku mengikutinya dan merengkuhnya. Aku memasuki suasana di mana semua orang bahagia karna kehadiranku. Aku tidak lagi sendiri. Iya.
Terimakasih sepi, aku banyak belajar darimu :)

Tidak ada komentar: