-2 Juli 2014-
Kesendirian
yang menyesakkan, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain terus
bersamanya. Menjamahnya hingga ia menelusup jauh ke dalam batinku. Aku sengaja
membiarkannya bermain-main di dalam hatiku, berlarian kesana-kemari. Biarpun cuma
sepi, tapi ia ada dan hidup dalam relung hatiku. Setidaknya dengan begini ia
dapat selalu menemaniku kapanpun aku menangis atau diam tak bersuara. Ia yang
lagi bermain-main menarik perhatianku, seketika aku terbius dan ikut bermain
dengannya. Aku diajaknya pergi ke tempat-tempat yang bagiku begitu istimewa,
aku mendengarnya bernyanyi dan menyaksikannya bercerita. Tapi, dari semua
kegiatannya ia lebih sering bercerita. Katanya, bercerita adalah hal yang
paling baik dilakukan ketika seseorang telah banyak menyimpan sesuatu. Biasanya
ia bercerita tentang petualangannya, perjalanannya yang katanya begitu panjang
atau tentang awal bagaimana ia terlahir. Aku selalu mendengarkannya, menyimak
setiap kalimat yang ia ucapkan. Apalagi yang harus kulakukan? Kupikir ini lebih
baik, daripada aku merana dalam kesendirianku, seorang diri. Terkadang aku
hampir mati dalam keadaan begini. Aku hanya bisa berkoar sendiri, menangis lalu
terdiam dan berulang seperti ini setiap kali aku sendiri. Sedih, miris.
Katanya,
ia terlahir karna panggilan. Ia memberitahuku bahwa jiwaku yang memanggilnya kemudian
ia tercipta dan datang untuk menemaniku. Tangan jiwaku menggenggam erat
tangannya, lalu seketika mengajaknya pergi untuk tinggal bersama jiwaku. Ia
tidak menyesal ataupun berontak, justru ia senang memiliki teman seperti jiwaku.
Belum ada yang bahagia secara tiba-tiba melihat keberadaanya, sebagaimana bahagianya
yang ditampakkan oleh jiwaku. Senyum jiwaku buat ia luluh dan dengan begitu
saja menuruti permintaan apa maunya jiwaku.
Lalu
katanya, sebelum aku menyadari kehadirannya. Ia sempat bertualang kesana
kemari. Melanglang buana hampir ke seluruh tempat di dunia. Ia tidak ingin
memaksaku yang belum tahu apa-apa. Ia juga tidak ingin meminta-minta dan
berharap yang mengemis-emis supaya aku menemaninya. “Biar aku tunggu hingga kau
menyadari keberadaanku”, katanya.
Ia
melanjutkan ceritanya, tentang destinasinya dan tentang perasaannya ketika
melakukan itu. Ia bilang, ia sangat menikmatinya. Perjalanan yang panjang dan
menyenangkan. “Aku bertemu banyak orang dan semuanya mengesankan” tukasnya.
Matanya kini menerawang jauh sekali seolah ia merasakan kembali pengalamannya
itu. “Pertama kali memutuskan untuk bertualang, aku pergi saja tanpa tahu
tempat itu apa namanya bahkan hingga sekarang kukira aku belum juga mengetahui
nama tempat yang pertama kali ku kunjungi itu.
“Aku
melihat bentuk senyum terbalik di awan, lengkungannya indah dan ia memiliki
beraneka warna. Ia seperti menerobos di sela-sela awan, lalu aku mengamatinya, mengikuti
arahnya di mana ia berujung. Panjang sekali, ternyata ujungnya bersentuhan
dengan air, air yang deras, besar dan keras jatuhnya. Dulu, aku belum tahu apa
namannya itu tapi, sekarang aku tahu bahwa yang memiliki warna bermacam-macam
itu adalah pelangi dan air yang besar itu namanya air terjun. Oh, aku seakan
terpesona, indah sekali. Aku tidak henti-henti melihatnya bahkan untuk beranjak
barang sebentar rasanya aku enggan. Lama kelamaan, pelangi itu warnanya memudar
dan hilang. Saat itu, aku serasa dicampakkan. Ah! Mengapa ia mesti hilang? Apa
ia tak suka bila aku melihatnya lama-lama?!
“Dari
situ aku mengerti, tiba-tiba saja. Pernah terngiang dalam ingatanku ada
seseorang yang bicara perihal keadaan di dunia. Aku, mengapa bisa dapat ilham
itu mungkin karna aku sesuatu yang terlahir dari reinkarnasi juga. Katanya,
dunia itu palsu belaka dan kamu hanya diuji hidup di dalamnya. Mungkin ini
maksudnya, bahwa keindahan dunia itu hanya sementara tidak akan selamanya.”
Seperti
itulah jika ia berbicara, seperti sedang berkhutbah. Kemudian ia bercerita tentang
perasaannya. Ia sempat merasa kesepian juga, katanya. Nah! Sepi juga dapat
merasakan sepi. Jika ia kembali ke tempatku dan melihatku, ingin rasanya ia
memelukku. Memberitahuku bahwa aku yang selalu menemanimu, kemari bersamaku.
Tapi, selalu ia urungkan niat itu. Kala itu, ia melihatku sedang bahagia,
teramat bahagia setiap hari sepanjang waktu. Ia tak ingin mengusikku biar
sedetik pun.
“Saat
itu, aku tak lantas meratap. Aku pergi lagi. Berjalan saja, berlalu supaya tak
melihatmu dulu tapi, aku akan menjagamu dengan telepati. Aku bertemu nenek tua,
ia sangat renta. Jalannya membungkuk, ada gundukan di punggungnya yang membuat
ia sulit untuk berdiri tegak layaknya manusia-manusia lain. Ia memakai tongkat
dan jalannya selalu terengah-engah. Ia tak bisa sering melihat ke depan, karna
persoalan bungkuknya tadi. Ia lebih banyak menunduk jika ia kelelahan menghadap
ke depan. Melalui tongkatnya ia raba tubuh jalanan. Aku tahu ia sangat lelah,
lelah sekali.
“Dari
situ aku memahami satu hal lagi. Hidup itu akan semakin sulit jika seseorang
yang tertimpa masalah terus saja mengeluh. Betapa mengerikannya saat kau meniti
arang panas dan kau egois inginnya bertelanjang kaki. Padahal dengan alas kaki,
kau bisa saja seketika berlari sehingga panas itu tak kau rasakan sedikitpun.”
***
Tiada
hari tanpa persoalan, masalah serasa datang silih berganti. Satu hal yang amat
menyakiti, kesendirian. Segala masalah kukira, akan jadi mudah jika ada banyak
orang yang selalu menemani dan mendukung kita. Tapi, sendiri? bagaimana bisa
seseorang melewati masalahnya?. Tidak ada tempat untuk berbagi, meminta saran
atau solusi mengenai masalah yang lagi dihadapi. Aku merasakan hal itu, di
tempat aku tinggal hanya ada satu petak ruangan dan berisi barang-barang yang
semuanya benda mati. Hanya aku yang hidup karna aku seorang manusia. Aku tidak
mungkin berbicara dengan benda-benda mati itu, hal yang percuma pikirku. Sampai
aku berteman dengan sepi. Ia mau jadi pendengar setiaku, mendengar keluh
kesahku. Ia pernah bilang, bahkan sebelum aku memberitahunya pun ia sudah tahu
apa yang hendak aku bicarakan. Ia hanya menegaskan karna ia adalah sesuatu yang
telah hidup di dalam jiwaku jadi mana mungkin ia tak tahu segala isinya.
“Dengar.
Meskipun namaku sepi tapi aku bahagia. Tuhan menciptakanku tidak sia-sia karna
aku dihadirkan untuk menemanimu. Nanti, saat kau tidak lagi merasakan
kesendirian dan semangat lagi menapaki hidupmu. Aku akan pergi karna memang
begitulah seharusannya. Aku bisa merasakannya, hatimu semakin kuat saja dan
perlahan keadaanmu membaik. Aku yakin tak lama lagi kau akan dapatkan impianmu.
Kau lebih tegar dari yang kutahu. Aku bisa lihat itu dari matamu. Berjuanglah
untuk cita-citamu. Akan ada saatnya dimana masalah bereinkarnasi menjadi sebuah
keajaiban. Memberikan harapan baru bagimu dan membuatmu tersenyum lagi.”
Kau
benar, iya. Aku semakin tegar dan tidak mudah lagi menangis. Itu semua juga
berkat kehadiranmu. Kau menunjukkanku cahaya itu di mana harapan mengundangku
untuk melintasi jalannya. Dan ketika aku mulai meniti jalan itu, kutahu kau
mulai jarang menemaniku. Aku hanya melihatmu sesekali dan hilang tanpa
kusadari. Tapi kaki ini ingin selalu berjalan, melangkah ke depan sehingga aku
tetiba mengabaikanmu. Aku tidak ingin melihat ke belakang karna kau juga
mengajarkanku itu. Aku tahu kau ada di belakangku atau juga tidak pada saat
itu. Yang jelas cahaya itu kini makin benderang di depanku. Aku mengikutinya
dan merengkuhnya. Aku memasuki suasana di mana semua orang bahagia karna
kehadiranku. Aku tidak lagi sendiri. Iya.
Terimakasih
sepi, aku banyak belajar darimu :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar