Kamis, 10 Juli 2014

-Satu cerita pengubah-



11 Juli 2014
 
Aku terluka, hatiku rasanya sakit sekali…
Ketika kamu marah padaku atau diam saja dan tiba-tiba menjauhiku. Aku yang tidak banyak temannya ini serasa makin sepi saja jika salah satu dari temanku pergi meninggalkanku. Seperti kamu. Aku memang salah, tak seharusnya berbuat begitu. Aku menyakiti perasaanmu. Aku berjanji namun, pada akhirnya aku tak menepatinya. Kamu pasti terluka sekali. Waktu itu, kamu ingin meminjam sesuatu lantas aku bilang bahwa aku akan membawakan barang yang ingin kau pinjam itu esok harinya. Seandainya, kau tahu. Pagi itu, aku begitu menantikan balasan dan kabar darimu. Kau tak kunjung membalasnya dan aku hampir terburu-buru berangkat kuliah. Aku sempat ragu, mesti pergikah aku karna aku takut akan mendapati pesan darimu selepas aku berada di kelas.
Aku memutuskan untuk pergi saja. Aku sudah absen dua kali jadi aku pikir, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk masuk kelas. Namun, ketika sampai di tengah jalan aku mendapati telepon genggamku bergetar. Aku memeriksanya dan ternyata kau baru mengabariku. Aku gundah dan bimbang saat itu. Jika aku berbalik arah dan kembali ke kosan serta mengambil benda yang ingin kau pinjam itu, aku pasti terlambat masuk kelas. Tapi, jika aku tetap melanjutkan langkahku, aku takut kamu akan kecewa padaku. Dengan mengucap bismillah aku lanjutkan perjalananku, melangkah maju ke depan ke arah kampus.
Dalam perjalanan aku masih memikirkanmu. Terlintas dalam benakku, mengapa kamu baru mengabariku setelah aku berada di tengah jalan begini. Atau mengapa kamu tak singgah sebentar ke tempatku dan mengambil benda yang ingin kau pinjam?. Mengapa kau jalan lebih dulu?. Ah iya, kamu pasti sudah kecewa padaku sebelumnya. Maafkan aku. Aku pun seharusnya tidak perlu ragu-ragu saat ingin meminjamimu benda milikku. Maaf ya, malam itu dimana kamu baru berniat akan meminjam, aku malah ragu dan tak segera memberi jawaban. Satu hal yang aku khawatir dan tak ingin kamu mengetahuinya. Aku sedang dalam masalah. Ini semua berkaitan namun, sulit rasanya mengungkapkannya secara langsung padamu. Bukan masalah tentang seberapa sering kamu meminjam ataupun seberapa lama pula benda ini akan kamu gunakan. Tapi, satu hal yang tadi itu. Aku tidak ingin membuatmu khawatir karna masalah pribadiku. Oh, betapa sulitnya menjelaskan hal ini.
Akhirnya, aku sampai juga di kelas. Aku tak mendapati pesan darimu lagi. Mungkin saat ini kamu juga lagi di dalam kelas, pikirku. Kelas yang berbeda. Aku mengambil kelas Kewarganegaraan dan kamu mengambil kelas Ilmu Alamiah Dasar. Kita ada di lantai yang juga berbeda. Ah, lagi lagi terbesit di benakku, harusnya kita pergi bersama tadi. Mengapa kau pergi duluan? Aduh.. mulai lagi.
                                                                        ***
Jam sepuluh kurang lima belas menit, handphoneku bergetar lagi menandakan ada pesan yang baru saja masuk. Kamu, benar. Pesan itu berbunyi “Aku tunggu kamu di lobby ya”. Saat itu pelajaran masih berlangsung. Lima menit kemudian, pesan masuk lagi dan berbunyi “Aku tunggu kamu di depan tempat akademik saja”. ‘Iya’ balasku. Ah, tapi mengapa rasanya waktu berputar lama sekali jika di dalam kelas. Aku tak bisa diam, bergerak seperti cacing kepanasan.
Aku berpikir, apa yang harus aku katakan padamu nanti? Sementara benda yang ingin kau pinjam tak berada di genggamanku. Waktu bergulir, akhirnya jam pelajaran selesai. Aku lari tergesa-gesa menghampiri lift, memainkan jari-jariku sambil menunggu lift berhenti tepat pada lantai tempat aku berdiri sekarang, lantai 10, paling atas. Pintu lift terbuka dan segera aku masuk. Ku layangkan jari telunjukku menekan angka ‘1’, lantai terbawah. Bagian yang paling tak kusuka jika di dalam lift adalah kepalaku seperti terbawa turun saat lift sedang membawaku turun, begitu juga sebaliknya. Mataku serasa ingin mengatup dan jatuh. Tapi hal itu tak berlangsung lama karna tanpa sadar aku sudah berada di lantai satu.
Kulihat sekitar, barangkali kali kamu kembali dan menungguku di lobby. Tidak, tidak ada. Kamu memberi pesan tidak lagi dengan nomormu tapi dengan nomor susi. Mungkin pulsamu habis, pikirku. ‘Aku tunggu di depan akademik. Cepat ya’ bunyi sebuah pesan. Selain kamu yang ingin meminjam sesuatu dariku, aku juga telah memberi tahu kamu sesuatu. Aku ingin meminjam buku milikmu.. Jadi maksudnya, transaksi ini dinamakan barter. Ah, sayangnya aku tak membawa laptopku. Aku tahu padahal saat ini kamu begitu membutuhkannya. Bagaimana ini..
Kamu dan susi sudah terududuk diantara kursi-kursi kepunyaan tempat bagian akademik itu. Aku menghampirimu dan langsung kubilang. “Tha, maaf aku lupa membawa laptopku. Apa sebaiknya kita ke kosanku saja sekarang?”. Lalu kau menjawabnya, “Yah.. Yasudahlah tidak apa-apa.Tidak perlu ke kosanmu lah” Hah? Kamu hanya membalas begitu. Dengan ekspresi wajah yang pasrah dan rasanya seketika mood-mu jadi memburuk. Sebelum pergi tak lupa kamu memberiku buku yang ingin kupinjam itu. Dengan langkah tergopoh kamu meninggalkan tempat akademik. Aku tahu kamu kecewa tapi tak mencoba menunjukkannya. Aku jadi tak enak hati, kau memberiku benda yang ingin kupinjam sementara aku tak membawa benda yang sebaliknya ingin kau pinjam. Kamu pun langsung buru-buru pergi meninggalkan aku dan susi tanpa sepatah kata sempat kuucapkan padamu. Begitulah, pada akhirnya.
                                                                        ***
Hari berganti, cerita datang dan pergi tanpa permisi. Ada yang tak pernah kembali dan ada juga yang bersedia rujuk namun tak bisa seperti dulu. Berubah. Beda, tak lagi sama. Begitu juga padamu, kurasakan begitu adanya. Terlihat biasa saja, memang. Jarak kita masih dekat tapi terasa ada sekat. Sekat yang pekat. Menahanku untuk bisa bersua denganmu seperti dulu. Kita bicara, sebagaimana biasanya, iya. Tapi, kata-kata yang keluar dari mulutmu kaku dan tak mengalir apa adanya. Aku mencoba tak mengacuhkannya karna aku juga tak ingin kehilangan teman sepertimu. Kali ini aku banyak berkata ketika kamu terdiam. Sebisa mungkin aku tak boleh terlampau jauh darimu.
Namun semakin berlalunya waktu, tak bisa aku taklukkan satu cerita itu lagi. Cerita yang membuatmu terkesan menjauh dariku sekarang. Aku tahu, kamu memiliki banyak teman. Tidak sepertiku. Atau, ya! Mungkin aku saja yang berpikiran negatif. Mungkin kamu memang sedang sibuk. Kau kan pengurus BEM, jadi sedang giat-giatnya mengurusi mahasiswa baru. Tapi, tak bisakah sekali saja kau membalas pesanku. Atau, yah! Mungkin saja pesanku yang tersangkut di operator atau juga malah kau yang lagi tak punya pulsa. Hmmm.. yasudahlah. Tak mengapa.
Satu hal yang ingin aku katakan padamu seandainya aku memiliki keberanian itu. “Biarpun begitu banyak tempat di dunia ini yang menarik, tapi pasti tetap hanya satu tempat yang akan terus dikunjungi. Bukan karna seberapa megah dan eloknya itu. Bukan karna menarik perhatian dan juga banyak dikunjungi orang. Tapi, bagiku satu tempat itu adalah tempat yang paling dekat dengan kita. Walau sederhana suasananya tapi nyaman untuk disinggahi. Bagaimana jika tempat itu ditutup dan aku tak bisa berkunjung lagi?. Aku pasti sedih dan sulit lagi mencari tempat yang lain.” Jadi jangan tutup hatimu untuk tidak bermain lagi denganku. Aku ingin menjadi temanmu. Selamanya.
Maafkan aku L

Tidak ada komentar: