11 Juli 2014
Aku
terluka, hatiku rasanya sakit sekali…
Ketika
kamu marah padaku atau diam saja dan tiba-tiba menjauhiku. Aku yang tidak
banyak temannya ini serasa makin sepi saja jika salah satu dari temanku pergi
meninggalkanku. Seperti kamu. Aku memang salah, tak seharusnya berbuat begitu.
Aku menyakiti perasaanmu. Aku berjanji namun, pada akhirnya aku tak
menepatinya. Kamu pasti terluka sekali. Waktu itu, kamu ingin meminjam sesuatu
lantas aku bilang bahwa aku akan membawakan barang yang ingin kau pinjam itu
esok harinya. Seandainya, kau tahu. Pagi itu, aku begitu menantikan balasan dan
kabar darimu. Kau tak kunjung membalasnya dan aku hampir terburu-buru berangkat
kuliah. Aku sempat ragu, mesti pergikah aku karna aku takut akan mendapati
pesan darimu selepas aku berada di kelas.
Aku
memutuskan untuk pergi saja. Aku sudah absen dua kali jadi aku pikir, aku tidak
boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk masuk kelas. Namun, ketika sampai di
tengah jalan aku mendapati telepon genggamku bergetar. Aku memeriksanya dan
ternyata kau baru mengabariku. Aku gundah dan bimbang saat itu. Jika aku
berbalik arah dan kembali ke kosan serta mengambil benda yang ingin kau pinjam
itu, aku pasti terlambat masuk kelas. Tapi, jika aku tetap melanjutkan langkahku,
aku takut kamu akan kecewa padaku. Dengan mengucap bismillah aku lanjutkan
perjalananku, melangkah maju ke depan ke arah kampus.
Dalam
perjalanan aku masih memikirkanmu. Terlintas dalam benakku, mengapa kamu baru
mengabariku setelah aku berada di tengah jalan begini. Atau mengapa kamu tak
singgah sebentar ke tempatku dan mengambil benda yang ingin kau pinjam?.
Mengapa kau jalan lebih dulu?. Ah iya, kamu pasti sudah kecewa padaku
sebelumnya. Maafkan aku. Aku pun seharusnya tidak perlu ragu-ragu saat ingin
meminjamimu benda milikku. Maaf ya, malam itu dimana kamu baru berniat akan
meminjam, aku malah ragu dan tak segera memberi jawaban. Satu hal yang aku
khawatir dan tak ingin kamu mengetahuinya. Aku sedang dalam masalah. Ini semua
berkaitan namun, sulit rasanya mengungkapkannya secara langsung padamu. Bukan
masalah tentang seberapa sering kamu meminjam ataupun seberapa lama pula benda
ini akan kamu gunakan. Tapi, satu hal yang tadi itu. Aku tidak ingin membuatmu
khawatir karna masalah pribadiku. Oh, betapa sulitnya menjelaskan hal ini.
Akhirnya,
aku sampai juga di kelas. Aku tak mendapati pesan darimu lagi. Mungkin saat ini
kamu juga lagi di dalam kelas, pikirku. Kelas yang berbeda. Aku mengambil kelas
Kewarganegaraan dan kamu mengambil kelas Ilmu Alamiah Dasar. Kita ada di lantai
yang juga berbeda. Ah, lagi lagi terbesit di benakku, harusnya kita pergi
bersama tadi. Mengapa kau pergi duluan? Aduh.. mulai lagi.
***
Jam
sepuluh kurang lima belas menit, handphoneku
bergetar lagi menandakan ada pesan yang baru saja masuk. Kamu, benar. Pesan itu
berbunyi “Aku tunggu kamu di lobby ya”. Saat itu pelajaran masih berlangsung.
Lima menit kemudian, pesan masuk lagi dan berbunyi “Aku tunggu kamu di depan
tempat akademik saja”. ‘Iya’ balasku. Ah, tapi mengapa rasanya waktu berputar
lama sekali jika di dalam kelas. Aku tak bisa diam, bergerak seperti cacing
kepanasan.
Aku
berpikir, apa yang harus aku katakan padamu nanti? Sementara benda yang ingin
kau pinjam tak berada di genggamanku. Waktu bergulir, akhirnya jam pelajaran
selesai. Aku lari tergesa-gesa menghampiri lift, memainkan jari-jariku sambil
menunggu lift berhenti tepat pada lantai tempat aku berdiri sekarang, lantai
10, paling atas. Pintu lift terbuka dan segera aku masuk. Ku layangkan jari
telunjukku menekan angka ‘1’, lantai terbawah. Bagian yang paling tak kusuka
jika di dalam lift adalah kepalaku seperti terbawa turun saat lift sedang
membawaku turun, begitu juga sebaliknya. Mataku serasa ingin mengatup dan
jatuh. Tapi hal itu tak berlangsung lama karna tanpa sadar aku sudah berada di
lantai satu.
Kulihat
sekitar, barangkali kali kamu kembali dan menungguku di lobby. Tidak, tidak
ada. Kamu memberi pesan tidak lagi dengan nomormu tapi dengan nomor susi.
Mungkin pulsamu habis, pikirku. ‘Aku tunggu di depan akademik. Cepat ya’ bunyi
sebuah pesan. Selain kamu yang ingin meminjam sesuatu dariku, aku juga telah
memberi tahu kamu sesuatu. Aku ingin meminjam buku milikmu.. Jadi maksudnya,
transaksi ini dinamakan barter. Ah,
sayangnya aku tak membawa laptopku. Aku tahu padahal saat ini kamu begitu
membutuhkannya. Bagaimana ini..
Kamu
dan susi sudah terududuk diantara kursi-kursi kepunyaan tempat bagian akademik
itu. Aku menghampirimu dan langsung kubilang. “Tha, maaf aku lupa membawa
laptopku. Apa sebaiknya kita ke kosanku saja sekarang?”. Lalu kau menjawabnya,
“Yah.. Yasudahlah tidak apa-apa.Tidak perlu ke kosanmu lah” Hah? Kamu hanya
membalas begitu. Dengan ekspresi wajah yang pasrah dan rasanya seketika mood-mu
jadi memburuk. Sebelum pergi tak lupa kamu memberiku buku yang ingin kupinjam
itu. Dengan langkah tergopoh kamu meninggalkan tempat akademik. Aku tahu kamu
kecewa tapi tak mencoba menunjukkannya. Aku jadi tak enak hati, kau memberiku
benda yang ingin kupinjam sementara aku tak membawa benda yang sebaliknya ingin
kau pinjam. Kamu pun langsung buru-buru pergi meninggalkan aku dan susi tanpa
sepatah kata sempat kuucapkan padamu. Begitulah, pada akhirnya.
***
Hari
berganti, cerita datang dan pergi tanpa permisi. Ada yang tak pernah kembali
dan ada juga yang bersedia rujuk namun tak bisa seperti dulu. Berubah. Beda,
tak lagi sama. Begitu juga padamu, kurasakan begitu adanya. Terlihat biasa
saja, memang. Jarak kita masih dekat tapi terasa ada sekat. Sekat yang pekat.
Menahanku untuk bisa bersua denganmu seperti dulu. Kita bicara, sebagaimana
biasanya, iya. Tapi, kata-kata yang keluar dari mulutmu kaku dan tak mengalir
apa adanya. Aku mencoba tak mengacuhkannya karna aku juga tak ingin kehilangan
teman sepertimu. Kali ini aku banyak berkata ketika kamu terdiam. Sebisa
mungkin aku tak boleh terlampau jauh darimu.
Namun
semakin berlalunya waktu, tak bisa aku taklukkan satu cerita itu lagi. Cerita
yang membuatmu terkesan menjauh dariku sekarang. Aku tahu, kamu memiliki banyak
teman. Tidak sepertiku. Atau, ya! Mungkin aku saja yang berpikiran negatif.
Mungkin kamu memang sedang sibuk. Kau kan pengurus BEM, jadi sedang
giat-giatnya mengurusi mahasiswa baru. Tapi, tak bisakah sekali saja kau
membalas pesanku. Atau, yah! Mungkin saja pesanku yang tersangkut di operator
atau juga malah kau yang lagi tak punya pulsa. Hmmm.. yasudahlah. Tak mengapa.
Satu
hal yang ingin aku katakan padamu seandainya aku memiliki keberanian itu. “Biarpun
begitu banyak tempat di dunia ini yang menarik, tapi pasti tetap hanya satu
tempat yang akan terus dikunjungi. Bukan karna seberapa megah dan eloknya itu.
Bukan karna menarik perhatian dan juga banyak dikunjungi orang. Tapi, bagiku
satu tempat itu adalah tempat yang paling dekat dengan kita. Walau sederhana
suasananya tapi nyaman untuk disinggahi. Bagaimana jika tempat itu ditutup dan
aku tak bisa berkunjung lagi?. Aku pasti sedih dan sulit lagi mencari tempat
yang lain.” Jadi jangan tutup hatimu untuk tidak bermain lagi denganku. Aku
ingin menjadi temanmu. Selamanya.
Maafkan
aku L
Tidak ada komentar:
Posting Komentar