Kau
ada dalam tempurung
Meringkuk,
menyusup di telan bumi
Di
duniamu sendiri
Lenggang
kangkung buat susah semuanya
Bisanya
cuma tiduran dengan kaki diangkat keatas
Bersandar
bak tuan rumah
Iya,
tuan rumah miskin!
Bila
hujan datang makin jadi lakumu
Terpejam
berhari-hari tak bangun bangun
Mendengkur
dan berliur
Kamu
seperti mayat hidup tak tahu malu
Kau
habiskan nasi
Kau
habiskan air
Kau
habiskan uang
Kau
habiskan pula baju
Malas
lagi untuk mencuci
Kalau
tidak merokok ya nyeruput kopi
Itu
saja kegiatanmu
Bila
bosan, nongkrong di teras rumah
Bila
cuaca terik, paling-paling kau pergi ke rumah kawan
Ngobrol
sepanjang hari
Ironi
para pengangguran!
Apa
yang diobrolkan?!
Tidak
bermutu dan membuang-buang waktu
Coba
lihat anak istrimu
Lihat
istrimu!
Kerja
banting tulang untuk beli makan
Lihat
coba!
Istrimu
lagi ngandung anak kedua!
Tapi
kerjanya jangan dikata
Dari
gelap hingga gelap lagi
Berkutat
dengan mesin-mesin pemamah tenaga
Tahu
kau seberapa ukurannya?
Lebih
dari badan manusia
Bahkan
tubuhmu yang merepotkan itu hanya secuil darinya
Lihat
coba!
Anakmu
bermain-main dengan tanah tetangga lagi
Meramunya
jadi bumbu kacang
Lalu
ia aduk-aduk dengan daun kerdil yang tumbuh beringas
Tahu
kau apa itu?
Gado-gado
kematian!
Mana
nyalimu, hai pengangguran
Mana
realisasi dari anganmu
Katanya
mau diwujudkan
Katanya
kau pasti sukses
Sebatas
impian!
Kau
hanya jadi pengobral janji seperti tikus-tikus itu
Jangan
salahkan Negara
Jangan
salahkan pemerintah
Jangan
salahkan keluargamu
Jangan
salahkan juga pendidikanmu
Bukan,
itu semua bukan patokannya!
Tiga
kata acuannya
“MAU
atau TIDAK?”
Kau
tambah pecundang bila pilih ‘atau’
Putuskan!
Putuskan!
Hai,
kau para pengangguran
Tangerang, 12 Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar