Sabtu, 12 Juli 2014

-Para Pengangguran-



Kau ada dalam tempurung
Meringkuk, menyusup di telan bumi
Di duniamu sendiri
Lenggang kangkung buat susah semuanya
Bisanya cuma tiduran dengan kaki diangkat keatas
Bersandar bak tuan rumah
Iya, tuan rumah miskin!
Bila hujan datang makin jadi lakumu
Terpejam berhari-hari tak bangun bangun
Mendengkur dan berliur
Kamu seperti mayat hidup tak tahu malu
Kau habiskan nasi
Kau habiskan air
Kau habiskan uang
Kau habiskan pula baju
Malas lagi untuk mencuci
Kalau tidak merokok ya nyeruput kopi
Itu saja kegiatanmu
Bila bosan, nongkrong di teras rumah
Bila cuaca terik, paling-paling kau pergi ke rumah kawan
Ngobrol sepanjang hari
Ironi para pengangguran!
Apa yang diobrolkan?!
Tidak bermutu dan membuang-buang waktu
Coba lihat anak istrimu
Lihat istrimu!
Kerja banting tulang untuk beli makan
Lihat coba!
Istrimu lagi ngandung anak kedua!
Tapi kerjanya jangan dikata
Dari gelap hingga gelap lagi
Berkutat dengan mesin-mesin pemamah tenaga
Tahu kau seberapa ukurannya?
Lebih dari badan manusia
Bahkan tubuhmu yang merepotkan itu hanya secuil darinya
Lihat coba!
Anakmu bermain-main dengan tanah tetangga lagi
Meramunya jadi bumbu kacang
Lalu ia aduk-aduk dengan daun kerdil yang tumbuh beringas
Tahu kau apa itu?
Gado-gado kematian!
Mana nyalimu, hai pengangguran
Mana realisasi dari anganmu
Katanya mau diwujudkan
Katanya kau pasti sukses
Sebatas impian!
Kau hanya jadi pengobral janji seperti tikus-tikus itu
Jangan salahkan Negara
Jangan salahkan pemerintah
Jangan salahkan keluargamu
Jangan salahkan juga pendidikanmu
Bukan, itu semua bukan patokannya!
Tiga kata acuannya
“MAU atau TIDAK?”
Kau tambah pecundang bila pilih ‘atau’
Putuskan! Putuskan!
Hai, kau para pengangguran

Tangerang, 12 Juli 2014




Tidak ada komentar: