13
Juli 2014
Aku
tak tahu harus mulai darimana. Yang jelas hari ini begitu rumit untukku, sama
seperti hari-hari sebelumnya. Seketika dunia dewasa mengagetkanku dengan cerita-ceritanya yang silih berganti datang
dan sulit dijelaskan, seperti tercekal di kerongkongan. Tapi, ini semua
akhirnya benar-benar terjadi. Aku merasa hari demi hari semakin sulit dijalani.
Aku sempat berpikir, dulu ketika masih kecil. Seperti apa kehidupan orang
dewasa itu, kata orang sangat sulit dijalani. Segalanya menuntut kita untuk
tegar dan tangguh. Kata orang juga, hidup matinya kamu ada dalam genggamanmu
sendiri. Lantas terlintas di benakku, aku jadi ingin merasakan kesulitan itu.
Dan aku membusungkan dada seolah-olah aku pasti bisa dengan mudah melaluinya.
Sekarang
aku berada pada kenyataan itu. Kenyataan dimana aku mesti menelan ludahku
sendiri. Aku sedang mencercap rasa pahit yang amat getir. Jalannya berkelok dan
dipenuhi dinding-dinding tebal menjulang seperti labirin. Luasnya jangan
dikata, bahkan aku belum menemukan ujungnya. Dimana pintu keluarnya saja aku
tak tahu. Jika aku bertemu lorong baru dan sebentar mendiami ruangannya semenit
kemudian datang para serdadu. Entah apa maksud dan tujuannya. Aku seperti
dikepung dengan sengaja. Membelit seluruh jalan agar aku tak bisa keluar menuju
lorong baru. Ah, seperti film sucker
punch saja. Namun sayangnya aku sendiri di sini, di tempat ini. Beberapa
menit kemudian aku berhasil lolos. Rasanya ada saja jalan lapang dipikiranku
yang buat aku memikirkan strategi saat itu juga dan berhasil mengalahkan
serdadu-serdadu itu. Aku membuat mereka semua bergelimpangan seperti mayat
tapi, anehnya tidak ada darah mereka yang berceceran, sama sekali. Aku lari sekuat
tenaga.
Adapula
lorong yang lain dan yang lain-lain lagi. Beda juga penghalangnya. Ada lorong yang
ditinggali para monster gemuk dengan perut gembul berguncang-guncang.
Seringkali mereka tertidur karna kekenyangan dan terisi banyak makanan pada gentong
perut mereka. Berliur dan menganga sambil bersandar di dinding atau juga
bersandar pada punggung monster lain. Mereka tak luput dari senjata tergenggam
ditangan. Mendengkur dan ada juga yang berjaga-jaga. Aku berjingkat
melewatinya. Namun tetap saja ketahuan, sial!. Sontak para monster yang tidur
tadi terbangun dan genap mereka semua mengelilingiku. Membuiku dengan
tubuh-tubuh bau anyir mereka. Tapi, selalu ada celah disitu. Aku kabur diantara
kangkangan kaki-kaki mereka. Para monster bodoh, mereka tak sadar aku telah
lolos. Aku tertawa sebentar, mereka masih saja mengerubung. Mungkin mereka tak
menyadari kehilanganku. Aku tertawa lagi dan pergi.
Satu
lagi dari yang lain itu. Aku seperti berada pada lorong dongeng. Ya dongeng putri
salju yang gagal. Mungkin aku sang putrinya. Ada seorang nenek, wajahnya terlampau
banyak keriput dimana-mana. Membawa tongkat kayu dan jalannya tergopoh-gopoh.
Di tangan sebelahnya membawa buah, entah apa namanya yang jelas bukan apel. Ia
memberikannya padaku. Menyuruhku memakannya. Di saat itu air mukanya bak peri,
si nenek tak berdosa. Melas sekali. Lalu, aku memakannya. Seketika kepalaku
berputar-putar dan aku tak sadarkan diri. Tapi, masih remang-remang kulihat
para bandit-bandit kecil mengitari si nenek tua itu. Ah! Tahukah kau apa yang
terjadi. Mereka semua justru ikut tertawa dengan nenek itu. Aku semakin loyo.
Jatuh pingsan.
Ini
dia yang sangat menegangkan. Aku bangun. Bangun karna merasakan panas di
sekujur tubuhku. Panas! Panas!. Aku ada di atas tungku dengan panci raksasa
yang sudah terisi penuh dengan sayur-mayur dan benda-benda aneh lainnya yang
lagi menggeliat-geliat. Ihhh..
Keringat
mengalir deras dari segala penjuru kelenjar keringatku. Dan mereka, para bandit
kecil serta nenek tua, ah tapi rasanya nenek sihir masih tertawa-tawa dalam
kemeranaanku. Mulut mereka tak henti menggamit-gamit, memasuk luarkan lidah
mereka. Aku ketakutan, tali di perutku makin membawaku dekat dengan panci sayur
aneh yang airnya bergolak-golak. Celaka aku! Aku harus bagaimana? Oh ya mengapa
tak ada pangeran yang datang menyelamatkanku? Aneh!
Aku
berhasil lolos lagi. Entah rasanya ketika itu kedua kakiku memanjang, panjang
sekali sampai bisa menapak ke bumi. Ke tanah dimana para manusia aneh itu masih
menertawaiku. Aku bisa turun dengan selamat. Mengapa kakiku jadi semelar karet,
pikirku. Jadi seperti kartun One Piece. Apa-apaan
ini ada kartun dalam dongeng.
Aku
menendang mereka semua dan lari dengan kencang. Keluar dari tempat memuakkan
itu. Dan aku sampai pada lorong yang sangat luas, dingin sekali udaranya. Hujan
pun turun begitu deras. Membasahiku dengan sengaja seperti makhluk tak berdosa.
Aku mengigil dan menangis. Sendirian. Pada saat itu seketika semua lorong dan
dinding labirin lenyap. Aku makin terisak. Ada dimana aku ini?. Makin tak
terbendung tangisku. Sambil merengkuh badanku sendiri, aku masih terus menangis.
Menangis.
***
Suara
ketukan terdegar amat kencang, kencang sekali. Aku masih sesenggukan dan
perlahan terbuka kelopak mataku. Masih dalam kemurungan kulihat sekitar. Aku
ada di dalam kamar di atas tempat tidurku. Dan suara ketukan itu berhenti jadi
teriakan yang lebih menggelegar. “BANGUN! KAMU LAGI APA SIH? UDAH LEWAT JAM
TUJUH TUH!.” Kulihat jam dinding dan mengucek kedua mataku. Aih! Aku terlambat.
“iya, iya sebentar.” Uuh.. Si nenek sihir itu bisanya marah-marah melulu.
Aku
sampai di kampus, untung saja di pelajaran pertama dosennya tak masuk. Di kelas,
aku memikirkan kembali tentang mimpiku semalam. Terasa jelas dalam ingatanku
dan kini ia seperti terpampang di depanku. Berupa layar bioskop dengan
proyektor yang tak seberapa besarnya itu. Kejadian di mimpi itu bagai adegan
yang memenuhi pikiranku.
Rasanya
memang tak jauh berbeda dengan kenyataan hidupku. Ibu, kakak dan semua saudaraku.
Bahkan aku sendiri masih berada pada labirin itu, penuh ruang dan penghalang,
tak pernah benar-benar dapat keluar. Ibu selalu dalam pilu. Aku tak pernah bisa
mewujudkan impiannya barang satu saja. Ibu selalu berangan ketika berada di
hadapanku. Seketika itu ibu membeberkan keinginan dan cita-citanya. Aku seperti
seorang guru yang lagi mendegarkan anak muridnya bercerita di depan kelas. Ku
perhatikan dengan seksama. “Ibu pengen punya rumah, punya uang banyak terus
bisa jalan-jalan dan jajan makanan yang enak-enak kayak artis di tivi. Pokoknya
hidupnya enak dan bisa beli apa aja yang ibu mau.” Tapi setelahnya ibu murung
pasrah. Ibu tak tahu kapan itu akan terjadi. Mungkin ini hanya sebatas angan
semu. Lantas kata ibu, “Biarlah itu semua terjadi di surga saja.”
Tak
tahulah aku, rumit sekali rasanya. Sampai sampai untuk menceritakannya saja
bukan main ribetnya. Mungkin karna terlalu banyak yang tersimpan dan terlalu
lama tidak dikeluarkan sehingga aku sulit menemukan berkas-berkas mana yang sebaiknya
lebih dahulu aku tuliskan. Segalanya berantakan, carut marut di dalam otakku.
Jujur saja, aku tak bisa mengada-adakan suatu cerita. Mungkin juga sebagai
penulis aku terlalu jujur dalam hal membeberkan suatu karangan. Bukan, bukan
karangan. Ini asli based on true story.
Pada
akhirnya yang masih tertinggal disini adalah keputus-asaan dan kegelisahan. Aku
hampir putus asa, atau bahkan juga sudah. Aku tak bisa membayangkan jika
terus-menerus seperti ini apa aku dapat bertahan. Kadang, aku muak membahas
luka masa lalu. Tentang ayah yang meninggalkan ibu begitu saja. Melihat ibu
banting tulang dari pagi hingga malam, selama hampir lima belas tahun.
Bayangkan lima belas tahun!. Disaat dewasa begini rasanya terpikirkan hal-hal
yang tak kusangka sejak dulu. Bisa saja kan ibu merasa hampa dan kesepian karna
ditinggal ayah. Tempat ia seharusnya mencurahkan perasaan cintanya dan keluh
kesahnya. Bisa saja kan ia di waktu-waktu tertentu menangis hingga terisak.
Atau bisa juga ibu hampir muak dengan kehidupannya, mesti berjuang mati-matian
seorang diri membesarkan kedua putrinya, padahal di dalam dirinya merindukan
kasih yang begitu besar dari seorang lelaki.
Dan
kini, saat ini. Ibu mesti tinggal dengan anak sulungnya yang telah menikah. Di
sebuah kontrakan yang ruangannya hanya tiga petak. Sebenarnya agak berlebihan
juga kalau mengatakan jalan hidup yang seperti ini terlampau susah karna masih
banyak orang-orang di pinggir jalan sana dan di tempat lainnya yang merasakan
penderitaan yang teramat getir. Namun, kalau kalian ditanya perihal tempat
tinggal pasti tak ingin satupun dari kalian yang mau mengotrak selama
bertahun-tahun, seumur hidupnya, 46 tahun. Hidup berdempetan dengan tetangga
yang bermaca-macam wataknya itu. Dicemooh tiap ada kesempatan, dibicarakan
dibelakang. Miris sekali. Padahal harusnya mereka tak membicarakan ibu apalagi
yang jelek-jelek sementara kan ibu jarang di rumah. Pagi buta sudah berangkat bekerja
dan malam setelah maghrib baru pulang. Toh, mereka juga tahu ibu bekerja di
pabrik dekat rumah.
Pernah
suatu ketika ibu menangis di hadapan Pak Rus, tetangga sebelah kiri. Aku
setengah terjaga kala itu. Terdengar ibu seperti minta maaf, maaf karna banyak
salah. Saat itu juga dadaku sesak, napasku megap-megap dan air mata jatuh di
atas pipiku. Salah? Kesalahan apa yang ibu perbuat?. Lalu Pak Rus hanya bilang
“Yasudah saya maafkan, tapi lain kali jangan seperti itu lagi.” Hhhh! Apa
maksudnya dia berkata begitu? hah? apa!. Tak sadarkah umurnya lebih muda dari
umur ibuku, tak sadarkah dia siapa yang sebenarnya membuat salah atau paling
tidak ia yang harusnya merasa bersalah. Ibu masih sesenggukan, membuka pintu
dan masuk ke rumah menghampiriku yang sedang rebahan tak bisa terpejam lagi.
Ibu melanjutkan tangisnya di sisiku. Aku masih ingat raut wajahnya hingga kini.
Kedua matanya sembab, bola-bolanya memerah dan secara alamiah kelopak matanya
menjadi sipit karna berlinangnya air mata, terus-menerus. Mulutnya tergambar
seperti anak kecil yang lagi mewek, melengkung kebawah seperti ada yang menarik
dari dasar dagu ibu. Sesekali telapak tangannya mengusap pipinya dan menangis
lagi. Hingga akhirnya ia tertidur. Aku hanya mampu menatapnya, menerawang jauh
kedalam bola matanya ketika tadi ia menangis. Yang bisa aku ucapkan hanyalah “Sudah
ibu jangan nangis lagi.” Aku ingin memeluk ibu dan harusnya aku memang
melakukan itu, tapi tidak kulakukan. Hhh.. Dasar anak payah.
Dan
ketika kami bertiga pindah tempat kontrakan baru. Entah karna dendam atau apa,
atau juga karna hatiku yang mulai ciut tak dapat lagi mempercayai orang
sembarangan. Setiap di jalan bertemu dengan Pak Rus dan keluarganya pasti aku
memalingkan mukaku. Aku melihat ke arah lain atau jika tidak aku menatap terus
ke depan seolah tak mengenalnya, dengan tatapanku yang kosong tentunya. Bukan
apa-apa, sebagai sorang remaja yang kala itu emosinya masih labil. Kadang
seketika terdapat semacam prinsip baru dalam kamus diriku. Jika ada seseorang
yang telah membuat aku atau salah seorang dari keluargaku menangis, aku tidak
sudi mengenalnya lagi bahkan untuk sekadar tersenyum padanya ketika berpapasan.
Aku terlalu sakit jika harus mengingat kembali luka yang telah ditorehkan. Jadi
lebih baik aku memakai prinsipku itu, bukan?.
Lalu
ada persoalan baru yang muncul, entah ini derita atau bukan. Ibu di PHK dari
pabrik tempat ia bekerja. Masih diberi pesangon, tapi rasanya ada yang seketika
hilang dari hidup ibu saat itu. Waktunya yang selama beberapa tahun ini ia isi
dengan berkutat pada mesin-mesin raksasa atau juga pada teman-temannya dimana
ia bercanda dan bercengkrama ketika sedang bekerja mesti hilang dengan satu
hari putusan saja. Ibu tak lagi dapat merasakan saat-saat itu. Ibu sempat
merenung, kalut. Tak biasa merasakan perbedaan yang drastis di kesehariannya.
Karna sekarang ibu hanya berdiam diri di rumah, melakukan pekerjaan rumah layaknya
ibu rumah tangga. Kadang, tubuhnya masih belum bisa beradaptasi dan ibu pun
jatuh sakit. Begitu seterusnya hingga hampir dua tahun ini.
Di
tahun 2012, ada dua kejadian yang berlangsung sekaligus. Kakak dipinang
laki-laki asal seberang dan aku diterima masuk perguruan tinggi negeri. Kali
ini pun menggunakan kata ‘entah’ lagi. Entah aku harus senang atau juga sedih. Aku
senang pada akhirnya kakak menikah dan menemukan belahan jiwanya, sementara aku
bisa melanjutkan kuliah. Kuliah, ah! hal yang begitu orang impikan. Dan lagi,
aku tak perlu repot-repot ketika daftar. Aku tinggal mendaftar melalui sekolah
SMAku dan menyerahkan nilai raporku, selesai. Karna aku mengikuti seleksi jalur
undangan. Waktu itu juga sebenarnya aku tak begitu berambisi untuk kuliah (karna
faktor keadaan saat itu tak memungkinkan). Diterima, alhamdulillah jika tidak
ya tak mengapa. Nasib baik memihakku, aku diterima dan dapat merasakan yang
namanya sekolah di sekolah negeri. Agak lebay, memang. Tapi, jujur saja aku
tidak sempat merasakan rasanya sekolah di sekolahan negeri dari SMP hingga SMA,
karna aku bersekolah di sekolah swasta. Paling-paling hanya SD saja, dan itu
kan karna dulu semua sekolah dasar memang berpangkat negeri.
Waktu
berlalu dengan sendirinya, begitu cepat. Aku dan kakak ada di jalan yang
berbeda. Kakak kini selain bekerja juga mesti mengurus keperluan suaminya.
Kakak kerja di pabrik seperti ibu dulu. Jika diberi lembur kakak biasanya
pulang setelah maghrib atau jika tidak pulang saat ashar. Tak bisa dipungkiri,
masyarakat di kota Tangerang memang mayoritasnya adalah karyawan pabrik. Entah
mungkin semacam buruh juga, namun karyawan pabrik nampaknya satu tingkat lebih
tinggi. Masih sama, dengan gaji UMR yang hanya pas-pasan. Pas untuk bayar
kontrakan dan kebutuhan sehari-hari. Terkadang juga bisa sangat kekurangan.
Miris.
Hanya
segelintir orang yang memiliki rumah mewah atau bertingkat atau
setidak-tidaknya rumah sendiri yang minimalis dan sederhana. Yang penting kan,
punya rumah. Begitu kata ibu-ibu jika ditanyakan soal ini. Tengok yang lain,
ternyata masih banyak pula yang tidak memiliki rumah atau bisa dikatakan
menumpang di negeri orang, mengontrak. Ya, tak bisa dikatakan mengontrak juga
sih.. Karna setiap bulan mesti bayar iuran kontrakan dan listrik. Itu artinya
mereka menyewa. Termasuk keluargaku. Lalu bagaimana tidak ibu memimpikan punya
rumah sendiri. Siapa sih orang yang tidak ingin memiliki rumah sendiri.
Setidaknya dengan begitu kita dapat bergerak leluasa. Meskipun masih sama-sama
memiliki predikat sebagai rakyat
proletar atau juga marginal. Kenyamanan hidup itu yang utama, karna rasa nyaman
jiwa jadi tentram. Ah! Atau juga tidak. Tidak ada kan seseorang yang hidup
tanpa diberikan ujian dari tuhan. Kembali lagi pada diri masing-masing orang, individualisme.
Kalau menurutku, dari sisi seseorang yang tidak memiliki rumah, ya lebih baik
punya rumah tentunya.
***
Jam
pelajaran hari ini selesai sudah, tidak ada bunyi lonceng karna ini adalah
kampus bukan sekolah dasar. Aku pulang melewati jalan biasa. Aku harus cermat
dalam memilih kendaraan umum, mesti yang lebih murah ongkosnya. Kulihat sejenak
isi dompet, aih! Miris sekali. Hampir-hampir kering seperti tanah di musim
kemarau. Aku memilih kereta sebagai alat transportasiku. Selain lebih murah
juga jarak tempuhnya lebih cepat, karna tidak ada macet justru yang membuat
macet.
Kadang-kadang
aku pulang ke Tangerang dan juga tetap tinggal di kosanku. Tapi, kali ini aku
mesti pulang karna sudah dua pekan tak pulang. Aku rindu juga pada ibu dan kakak.
Dan mereka masih dengan rutinitasnya. Ibu Menjaga dan membereskan rumah
sedangkan kakak pergi bekerja. Lagi lagi sedih. Aku tak sampai hati melihat
kakak yang terus saja bekerja berat di pabrik sementara kandungannya mulai
membesar. Suaminya, ah! Aku tak begitu ingin menceritakan keadaannya. Yang
jelas kerjanya kadang ada dan juga tidak. Semuanya bergantung pada kakak. Bayar
iuaran kontrakan, makan sehari-sehari, dan kebutuhan bulanan yang perlu distok
adalah dari kakak. Suaminya pulang hanya kadang-kadang saja memberi uang. Tak
jarang ibu bertengkar dengan kakak mengenai hal yang itu-itu lagi. Pada
akhirnya mereka berdua menangis bersama-sama. Seperti drama-drama di tv atau
juga telenovela.
Pada
saat itu aku hanya bisa diam, tutup kuping. Terkadang juga aku hampir muak,
pusing kepalaku. Aku pun menangis dalam diam. Aku yang masih kuliah ini tak
bisa memberi jaminan apa-apa untuk kebahagiaan mereka berdua. Uang dari
beasiswaku juga hanya cukup untuk membayar kosan, selebihnya untuk makan
sendiri. Bila kekurangan sehabis membeli buku atau peralatan kuliah lainnya,
aku minta pada ibu. Tidak pernah memberi tapi selalu meminta, itulah aku. Tak
jarang aku mesti puas hanya dengan uang 50 ribu seminggu. Aku harus mengiritnya
dengan sangat. Untung aku tak perlu lagi membeli beras karna biasanya aku
membawa beras dari Tangerang dan tinggal membeli lauk untuk makan. Lauknya
mesti bertahan dalam dua hari atau juga lebih. Apabila lauk kering yang dibeli
masih lumayan rasanya tapi, jika sayur yang dibiarkan menghuni alat penghangat
makanan pasti bukan main rasanya. Berubah 180 derajat. Tidak enak lagi. Uwekk..
Saat itu jika uang benar-benar sudah habis yang kulakukan kalau tidak meminjam
uang teman ya.. Menggadaikan laptopku ini. Ya, ia pernah dua kali menghuni
tempat penggadaian. Tidak lama, jika sudah ada uang aku biasanya segera
mengambilnya. Begitulah.
***
Malam
harinya, tetiba terdengar suara motor dari depan rumah. Ternyata suami kakak.
Jika ia pulang, alamat. Pasti akan ada babak drama baru yang tampil. Kali ini
aku dan dia. Bagaimana tidak, harusnya ia tak pulang dulu ketika aku disini
padahal ia pernah bilang akan bergantian pulang ke Tangerang. Jika aku yang
pulang, maka harusnya ia tak pulang. Tapi kali ini, berbeda. Bukannya tidak
ingin berbaur, tapi dia yang selalu mulai duluan. Yah! Mulai deh. Tidak,
maksudku ya begitulah. Tak perlu kuceritakan.
Aku
memang selalu berbicara menurut sisi pandangku. Aku muak dengan semua ini. Aku
muak dengan kehadirannya. Yang membiarkan kakak bekerja berat sementara ia
hanya tertidur. Jika kakak pulang dari bekerja lantas segera menyiapkan apa
yang suaminya inginkan. Aku juga muak pada keadaan ini. Ibu dan aku yang mesti
tidur di ruang depan, ruang tamu. Berteman dengan sepeda dan motor, dengan
tumpukan buku-buku incunabulaku.
Tidak, belum hingga lima abad usia bukuku. Maksudku, buku-buku semasa sekolah SMP
dan SMA dulu. Aku benci tatkala ia membentak istrinya dan kadang juga ibuku.
Aku geram melihatnya mengusai televisi sehingga ibu tak dapat menonton barang
semenit pun. Aku benci mendengar dengusannya. Oh iya, malah akhirnya kuceritakan juga ini.
Biarlah.
Pernah
sekali waktu, aku lepas kendali. Dadaku naik turun dengan cepat dan napasku
tergesa-gesa. Aku tidak tahan lagi mendengar ia mengomeli kakakku. Aku
melabraknya. Dan dia pun membalasku, memarahiku. Persetan dengan semua itu!.
Siapa dia seenaknya membentak kakakku yang sedang mengandung itu. Ah! Iya aku
lupa ia suaminya, pemimpin bagi keluarga kecil mereka. Dan ah iya! Apa kakakku
hanya sebagai pelayannya sehingga berhak menerima kata-kata kasar?. Aku
mendampratnya habis-habisan hingga ibu dan kakak ketakutan. Mungkin juga semua
tetangga mendengar pertengkaran kami.
Ya
ya aku tahu, memang seharusnya aku tak ikut campur dengan persoalan rumah
tangga kakakku. Dan seharusnya pula seorang istri memang lebih patuh pada
suaminya. Terbukti kakak tak pernah membelaku. Oke! Aku pergi. Ya, rasakanlah
kemenanganmu sementara aku pergi.
Ibu
terus menengahi dan mendiamkanku supaya aku tak marah-marah lagi. Ibu selalu
berpihak padaku. Aih! Aku masih teringat saja wajah lelaki itu yang lagi
marah-marah. Hitam tersapu merah membara. Urat-uratnya terlihat dan rasanya
hampir mau copot. Aku menarik napas dan mengembuskannya. Huh.. Hah.. Huh.. Hah.
sabar…
***
Ketika
ku ingat saat itu, aku menangis lagi. Kadang aku menyesal. Kadang juga aku
puas. Dan pada akhirnya yang lebih sering kulakukan adalah menangis dan
menangis lagi. Biarlah orang mau bilang aku cengeng. Maafkan aku ibu, maafkan
aku kakak. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan ibu dan maaf, aku hanya
bisa merepotkan kalian berdua.
Aku
menangisi segalanya. Aku teringat akan pilu dari para tetangga. Teringat
tangisan ibu, tentang bentakan orang-orang terhadap keluarga kita. Aku menangis
lagi mengingat masa lalu ibu, melihat kakak yang hampir sama takdirnya dengan
ibu. Merasakan keadaanku yang tak berubah, jadi lebih baik. Aku muak juga pada
diriku, mengapa tak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah ini semua. Aku lelah
pada keadaan ini. Keadaan yang membiarkan diriku sendiri memakan makanan basi,
melihat iri pada teman-teman yang rasanya leluasa melakukan apa saja. Mereka
yang tidak merasakan dicemooh orang lain. Ah! Atau juga pernah mungkin. Ya..