Rabu, 16 Juli 2014

-Hari Akumulasi-



13 Juli 2014
 
Aku tak tahu harus mulai darimana. Yang jelas hari ini begitu rumit untukku, sama seperti hari-hari sebelumnya. Seketika dunia dewasa mengagetkanku dengan  cerita-ceritanya yang silih berganti datang dan sulit dijelaskan, seperti tercekal di kerongkongan. Tapi, ini semua akhirnya benar-benar terjadi. Aku merasa hari demi hari semakin sulit dijalani. Aku sempat berpikir, dulu ketika masih kecil. Seperti apa kehidupan orang dewasa itu, kata orang sangat sulit dijalani. Segalanya menuntut kita untuk tegar dan tangguh. Kata orang juga, hidup matinya kamu ada dalam genggamanmu sendiri. Lantas terlintas di benakku, aku jadi ingin merasakan kesulitan itu. Dan aku membusungkan dada seolah-olah aku pasti bisa dengan mudah melaluinya.

Sekarang aku berada pada kenyataan itu. Kenyataan dimana aku mesti menelan ludahku sendiri. Aku sedang mencercap rasa pahit yang amat getir. Jalannya berkelok dan dipenuhi dinding-dinding tebal menjulang seperti labirin. Luasnya jangan dikata, bahkan aku belum menemukan ujungnya. Dimana pintu keluarnya saja aku tak tahu. Jika aku bertemu lorong baru dan sebentar mendiami ruangannya semenit kemudian datang para serdadu. Entah apa maksud dan tujuannya. Aku seperti dikepung dengan sengaja. Membelit seluruh jalan agar aku tak bisa keluar menuju lorong baru. Ah, seperti film sucker punch saja. Namun sayangnya aku sendiri di sini, di tempat ini. Beberapa menit kemudian aku berhasil lolos. Rasanya ada saja jalan lapang dipikiranku yang buat aku memikirkan strategi saat itu juga dan berhasil mengalahkan serdadu-serdadu itu. Aku membuat mereka semua bergelimpangan seperti mayat tapi, anehnya tidak ada darah mereka yang berceceran, sama sekali. Aku lari sekuat tenaga.

Adapula lorong yang lain dan yang lain-lain lagi. Beda juga penghalangnya. Ada lorong yang ditinggali para monster gemuk dengan perut gembul berguncang-guncang. Seringkali mereka tertidur karna kekenyangan dan terisi banyak makanan pada gentong perut mereka. Berliur dan menganga sambil bersandar di dinding atau juga bersandar pada punggung monster lain. Mereka tak luput dari senjata tergenggam ditangan. Mendengkur dan ada juga yang berjaga-jaga. Aku berjingkat melewatinya. Namun tetap saja ketahuan, sial!. Sontak para monster yang tidur tadi terbangun dan genap mereka semua mengelilingiku. Membuiku dengan tubuh-tubuh bau anyir mereka. Tapi, selalu ada celah disitu. Aku kabur diantara kangkangan kaki-kaki mereka. Para monster bodoh, mereka tak sadar aku telah lolos. Aku tertawa sebentar, mereka masih saja mengerubung. Mungkin mereka tak menyadari kehilanganku. Aku tertawa lagi dan pergi.

Satu lagi dari yang lain itu. Aku seperti berada pada lorong dongeng. Ya dongeng putri salju yang gagal. Mungkin aku sang putrinya. Ada seorang nenek, wajahnya terlampau banyak keriput dimana-mana. Membawa tongkat kayu dan jalannya tergopoh-gopoh. Di tangan sebelahnya membawa buah, entah apa namanya yang jelas bukan apel. Ia memberikannya padaku. Menyuruhku memakannya. Di saat itu air mukanya bak peri, si nenek tak berdosa. Melas sekali. Lalu, aku memakannya. Seketika kepalaku berputar-putar dan aku tak sadarkan diri. Tapi, masih remang-remang kulihat para bandit-bandit kecil mengitari si nenek tua itu. Ah! Tahukah kau apa yang terjadi. Mereka semua justru ikut tertawa dengan nenek itu. Aku semakin loyo. Jatuh pingsan.

Ini dia yang sangat menegangkan. Aku bangun. Bangun karna merasakan panas di sekujur tubuhku. Panas! Panas!. Aku ada di atas tungku dengan panci raksasa yang sudah terisi penuh dengan sayur-mayur dan benda-benda aneh lainnya yang lagi menggeliat-geliat. Ihhh..

Keringat mengalir deras dari segala penjuru kelenjar keringatku. Dan mereka, para bandit kecil serta nenek tua, ah tapi rasanya nenek sihir masih tertawa-tawa dalam kemeranaanku. Mulut mereka tak henti menggamit-gamit, memasuk luarkan lidah mereka. Aku ketakutan, tali di perutku makin membawaku dekat dengan panci sayur aneh yang airnya bergolak-golak. Celaka aku! Aku harus bagaimana? Oh ya mengapa tak ada pangeran yang datang menyelamatkanku? Aneh!

Aku berhasil lolos lagi. Entah rasanya ketika itu kedua kakiku memanjang, panjang sekali sampai bisa menapak ke bumi. Ke tanah dimana para manusia aneh itu masih menertawaiku. Aku bisa turun dengan selamat. Mengapa kakiku jadi semelar karet, pikirku. Jadi seperti kartun One Piece. Apa-apaan ini ada kartun dalam dongeng.

Aku menendang mereka semua dan lari dengan kencang. Keluar dari tempat memuakkan itu. Dan aku sampai pada lorong yang sangat luas, dingin sekali udaranya. Hujan pun turun begitu deras. Membasahiku dengan sengaja seperti makhluk tak berdosa. Aku mengigil dan menangis. Sendirian. Pada saat itu seketika semua lorong dan dinding labirin lenyap. Aku makin terisak. Ada dimana aku ini?. Makin tak terbendung tangisku. Sambil merengkuh badanku sendiri, aku masih terus menangis. Menangis.

                                                                        ***
Suara ketukan terdegar amat kencang, kencang sekali. Aku masih sesenggukan dan perlahan terbuka kelopak mataku. Masih dalam kemurungan kulihat sekitar. Aku ada di dalam kamar di atas tempat tidurku. Dan suara ketukan itu berhenti jadi teriakan yang lebih menggelegar. “BANGUN! KAMU LAGI APA SIH? UDAH LEWAT JAM TUJUH TUH!.” Kulihat jam dinding dan mengucek kedua mataku. Aih! Aku terlambat. “iya, iya sebentar.” Uuh.. Si nenek sihir itu bisanya marah-marah melulu.

Aku sampai di kampus, untung saja di pelajaran pertama dosennya tak masuk. Di kelas, aku memikirkan kembali tentang mimpiku semalam. Terasa jelas dalam ingatanku dan kini ia seperti terpampang di depanku. Berupa layar bioskop dengan proyektor yang tak seberapa besarnya itu. Kejadian di mimpi itu bagai adegan yang memenuhi pikiranku.

Rasanya memang tak jauh berbeda dengan kenyataan hidupku. Ibu, kakak dan semua saudaraku. Bahkan aku sendiri masih berada pada labirin itu, penuh ruang dan penghalang, tak pernah benar-benar dapat keluar. Ibu selalu dalam pilu. Aku tak pernah bisa mewujudkan impiannya barang satu saja. Ibu selalu berangan ketika berada di hadapanku. Seketika itu ibu membeberkan keinginan dan cita-citanya. Aku seperti seorang guru yang lagi mendegarkan anak muridnya bercerita di depan kelas. Ku perhatikan dengan seksama. “Ibu pengen punya rumah, punya uang banyak terus bisa jalan-jalan dan jajan makanan yang enak-enak kayak artis di tivi. Pokoknya hidupnya enak dan bisa beli apa aja yang ibu mau.” Tapi setelahnya ibu murung pasrah. Ibu tak tahu kapan itu akan terjadi. Mungkin ini hanya sebatas angan semu. Lantas kata ibu, “Biarlah itu semua terjadi di surga saja.”

Tak tahulah aku, rumit sekali rasanya. Sampai sampai untuk menceritakannya saja bukan main ribetnya. Mungkin karna terlalu banyak yang tersimpan dan terlalu lama tidak dikeluarkan sehingga aku sulit menemukan berkas-berkas mana yang sebaiknya lebih dahulu aku tuliskan. Segalanya berantakan, carut marut di dalam otakku. Jujur saja, aku tak bisa mengada-adakan suatu cerita. Mungkin juga sebagai penulis aku terlalu jujur dalam hal membeberkan suatu karangan. Bukan, bukan karangan. Ini asli based on true story.

Pada akhirnya yang masih tertinggal disini adalah keputus-asaan dan kegelisahan. Aku hampir putus asa, atau bahkan juga sudah. Aku tak bisa membayangkan jika terus-menerus seperti ini apa aku dapat bertahan. Kadang, aku muak membahas luka masa lalu. Tentang ayah yang meninggalkan ibu begitu saja. Melihat ibu banting tulang dari pagi hingga malam, selama hampir lima belas tahun. Bayangkan lima belas tahun!. Disaat dewasa begini rasanya terpikirkan hal-hal yang tak kusangka sejak dulu. Bisa saja kan ibu merasa hampa dan kesepian karna ditinggal ayah. Tempat ia seharusnya mencurahkan perasaan cintanya dan keluh kesahnya. Bisa saja kan ia di waktu-waktu tertentu menangis hingga terisak. Atau bisa juga ibu hampir muak dengan kehidupannya, mesti berjuang mati-matian seorang diri membesarkan kedua putrinya, padahal di dalam dirinya merindukan kasih yang begitu besar dari seorang lelaki.

Dan kini, saat ini. Ibu mesti tinggal dengan anak sulungnya yang telah menikah. Di sebuah kontrakan yang ruangannya hanya tiga petak. Sebenarnya agak berlebihan juga kalau mengatakan jalan hidup yang seperti ini terlampau susah karna masih banyak orang-orang di pinggir jalan sana dan di tempat lainnya yang merasakan penderitaan yang teramat getir. Namun, kalau kalian ditanya perihal tempat tinggal pasti tak ingin satupun dari kalian yang mau mengotrak selama bertahun-tahun, seumur hidupnya, 46 tahun. Hidup berdempetan dengan tetangga yang bermaca-macam wataknya itu. Dicemooh tiap ada kesempatan, dibicarakan dibelakang. Miris sekali. Padahal harusnya mereka tak membicarakan ibu apalagi yang jelek-jelek sementara kan ibu jarang di rumah. Pagi buta sudah berangkat bekerja dan malam setelah maghrib baru pulang. Toh, mereka juga tahu ibu bekerja di pabrik dekat rumah.

Pernah suatu ketika ibu menangis di hadapan Pak Rus, tetangga sebelah kiri. Aku setengah terjaga kala itu. Terdengar ibu seperti minta maaf, maaf karna banyak salah. Saat itu juga dadaku sesak, napasku megap-megap dan air mata jatuh di atas pipiku. Salah? Kesalahan apa yang ibu perbuat?. Lalu Pak Rus hanya bilang “Yasudah saya maafkan, tapi lain kali jangan seperti itu lagi.” Hhhh! Apa maksudnya dia berkata begitu? hah? apa!. Tak sadarkah umurnya lebih muda dari umur ibuku, tak sadarkah dia siapa yang sebenarnya membuat salah atau paling tidak ia yang harusnya merasa bersalah. Ibu masih sesenggukan, membuka pintu dan masuk ke rumah menghampiriku yang sedang rebahan tak bisa terpejam lagi. Ibu melanjutkan tangisnya di sisiku. Aku masih ingat raut wajahnya hingga kini. Kedua matanya sembab, bola-bolanya memerah dan secara alamiah kelopak matanya menjadi sipit karna berlinangnya air mata, terus-menerus. Mulutnya tergambar seperti anak kecil yang lagi mewek, melengkung kebawah seperti ada yang menarik dari dasar dagu ibu. Sesekali telapak tangannya mengusap pipinya dan menangis lagi. Hingga akhirnya ia tertidur. Aku hanya mampu menatapnya, menerawang jauh kedalam bola matanya ketika tadi ia menangis. Yang bisa aku ucapkan hanyalah “Sudah ibu jangan nangis lagi.” Aku ingin memeluk ibu dan harusnya aku memang melakukan itu, tapi tidak kulakukan. Hhh.. Dasar anak payah.

Dan ketika kami bertiga pindah tempat kontrakan baru. Entah karna dendam atau apa, atau juga karna hatiku yang mulai ciut tak dapat lagi mempercayai orang sembarangan. Setiap di jalan bertemu dengan Pak Rus dan keluarganya pasti aku memalingkan mukaku. Aku melihat ke arah lain atau jika tidak aku menatap terus ke depan seolah tak mengenalnya, dengan tatapanku yang kosong tentunya. Bukan apa-apa, sebagai sorang remaja yang kala itu emosinya masih labil. Kadang seketika terdapat semacam prinsip baru dalam kamus diriku. Jika ada seseorang yang telah membuat aku atau salah seorang dari keluargaku menangis, aku tidak sudi mengenalnya lagi bahkan untuk sekadar tersenyum padanya ketika berpapasan. Aku terlalu sakit jika harus mengingat kembali luka yang telah ditorehkan. Jadi lebih baik aku memakai prinsipku itu, bukan?.

Lalu ada persoalan baru yang muncul, entah ini derita atau bukan. Ibu di PHK dari pabrik tempat ia bekerja. Masih diberi pesangon, tapi rasanya ada yang seketika hilang dari hidup ibu saat itu. Waktunya yang selama beberapa tahun ini ia isi dengan berkutat pada mesin-mesin raksasa atau juga pada teman-temannya dimana ia bercanda dan bercengkrama ketika sedang bekerja mesti hilang dengan satu hari putusan saja. Ibu tak lagi dapat merasakan saat-saat itu. Ibu sempat merenung, kalut. Tak biasa merasakan perbedaan yang drastis di kesehariannya. Karna sekarang ibu hanya berdiam diri di rumah, melakukan pekerjaan rumah layaknya ibu rumah tangga. Kadang, tubuhnya masih belum bisa beradaptasi dan ibu pun jatuh sakit. Begitu seterusnya hingga hampir dua tahun ini.

Di tahun 2012, ada dua kejadian yang berlangsung sekaligus. Kakak dipinang laki-laki asal seberang dan aku diterima masuk perguruan tinggi negeri. Kali ini pun menggunakan kata ‘entah’ lagi. Entah aku harus senang atau juga sedih. Aku senang pada akhirnya kakak menikah dan menemukan belahan jiwanya, sementara aku bisa melanjutkan kuliah. Kuliah, ah! hal yang begitu orang impikan. Dan lagi, aku tak perlu repot-repot ketika daftar. Aku tinggal mendaftar melalui sekolah SMAku dan menyerahkan nilai raporku, selesai. Karna aku mengikuti seleksi jalur undangan. Waktu itu juga sebenarnya aku tak begitu berambisi untuk kuliah (karna faktor keadaan saat itu tak memungkinkan). Diterima, alhamdulillah jika tidak ya tak mengapa. Nasib baik memihakku, aku diterima dan dapat merasakan yang namanya sekolah di sekolah negeri. Agak lebay, memang. Tapi, jujur saja aku tidak sempat merasakan rasanya sekolah di sekolahan negeri dari SMP hingga SMA, karna aku bersekolah di sekolah swasta. Paling-paling hanya SD saja, dan itu kan karna dulu semua sekolah dasar memang berpangkat negeri.

Waktu berlalu dengan sendirinya, begitu cepat. Aku dan kakak ada di jalan yang berbeda. Kakak kini selain bekerja juga mesti mengurus keperluan suaminya. Kakak kerja di pabrik seperti ibu dulu. Jika diberi lembur kakak biasanya pulang setelah maghrib atau jika tidak pulang saat ashar. Tak bisa dipungkiri, masyarakat di kota Tangerang memang mayoritasnya adalah karyawan pabrik. Entah mungkin semacam buruh juga, namun karyawan pabrik nampaknya satu tingkat lebih tinggi. Masih sama, dengan gaji UMR yang hanya pas-pasan. Pas untuk bayar kontrakan dan kebutuhan sehari-hari. Terkadang juga bisa sangat kekurangan. Miris.

Hanya segelintir orang yang memiliki rumah mewah atau bertingkat atau setidak-tidaknya rumah sendiri yang minimalis dan sederhana. Yang penting kan, punya rumah. Begitu kata ibu-ibu jika ditanyakan soal ini. Tengok yang lain, ternyata masih banyak pula yang tidak memiliki rumah atau bisa dikatakan menumpang di negeri orang, mengontrak. Ya, tak bisa dikatakan mengontrak juga sih.. Karna setiap bulan mesti bayar iuran kontrakan dan listrik. Itu artinya mereka menyewa. Termasuk keluargaku. Lalu bagaimana tidak ibu memimpikan punya rumah sendiri. Siapa sih orang yang tidak ingin memiliki rumah sendiri. Setidaknya dengan begitu kita dapat bergerak leluasa. Meskipun masih sama-sama memiliki predikat  sebagai rakyat proletar atau juga marginal. Kenyamanan hidup itu yang utama, karna rasa nyaman jiwa jadi tentram. Ah! Atau juga tidak. Tidak ada kan seseorang yang hidup tanpa diberikan ujian dari tuhan. Kembali lagi pada diri masing-masing orang, individualisme. Kalau menurutku, dari sisi seseorang yang tidak memiliki rumah, ya lebih baik punya rumah tentunya.

                                                                        ***
Jam pelajaran hari ini selesai sudah, tidak ada bunyi lonceng karna ini adalah kampus bukan sekolah dasar. Aku pulang melewati jalan biasa. Aku harus cermat dalam memilih kendaraan umum, mesti yang lebih murah ongkosnya. Kulihat sejenak isi dompet, aih! Miris sekali. Hampir-hampir kering seperti tanah di musim kemarau. Aku memilih kereta sebagai alat transportasiku. Selain lebih murah juga jarak tempuhnya lebih cepat, karna tidak ada macet justru yang membuat macet.

Kadang-kadang aku pulang ke Tangerang dan juga tetap tinggal di kosanku. Tapi, kali ini aku mesti pulang karna sudah dua pekan tak pulang. Aku rindu juga pada ibu dan kakak. Dan mereka masih dengan rutinitasnya. Ibu Menjaga dan membereskan rumah sedangkan kakak pergi bekerja. Lagi lagi sedih. Aku tak sampai hati melihat kakak yang terus saja bekerja berat di pabrik sementara kandungannya mulai membesar. Suaminya, ah! Aku tak begitu ingin menceritakan keadaannya. Yang jelas kerjanya kadang ada dan juga tidak. Semuanya bergantung pada kakak. Bayar iuaran kontrakan, makan sehari-sehari, dan kebutuhan bulanan yang perlu distok adalah dari kakak. Suaminya pulang hanya kadang-kadang saja memberi uang. Tak jarang ibu bertengkar dengan kakak mengenai hal yang itu-itu lagi. Pada akhirnya mereka berdua menangis bersama-sama. Seperti drama-drama di tv atau juga telenovela.

Pada saat itu aku hanya bisa diam, tutup kuping. Terkadang juga aku hampir muak, pusing kepalaku. Aku pun menangis dalam diam. Aku yang masih kuliah ini tak bisa memberi jaminan apa-apa untuk kebahagiaan mereka berdua. Uang dari beasiswaku juga hanya cukup untuk membayar kosan, selebihnya untuk makan sendiri. Bila kekurangan sehabis membeli buku atau peralatan kuliah lainnya, aku minta pada ibu. Tidak pernah memberi tapi selalu meminta, itulah aku. Tak jarang aku mesti puas hanya dengan uang 50 ribu seminggu. Aku harus mengiritnya dengan sangat. Untung aku tak perlu lagi membeli beras karna biasanya aku membawa beras dari Tangerang dan tinggal membeli lauk untuk makan. Lauknya mesti bertahan dalam dua hari atau juga lebih. Apabila lauk kering yang dibeli masih lumayan rasanya tapi, jika sayur yang dibiarkan menghuni alat penghangat makanan pasti bukan main rasanya. Berubah 180 derajat. Tidak enak lagi. Uwekk.. Saat itu jika uang benar-benar sudah habis yang kulakukan kalau tidak meminjam uang teman ya.. Menggadaikan laptopku ini. Ya, ia pernah dua kali menghuni tempat penggadaian. Tidak lama, jika sudah ada uang aku biasanya segera mengambilnya. Begitulah.

                                                                        ***
Malam harinya, tetiba terdengar suara motor dari depan rumah. Ternyata suami kakak. Jika ia pulang, alamat. Pasti akan ada babak drama baru yang tampil. Kali ini aku dan dia. Bagaimana tidak, harusnya ia tak pulang dulu ketika aku disini padahal ia pernah bilang akan bergantian pulang ke Tangerang. Jika aku yang pulang, maka harusnya ia tak pulang. Tapi kali ini, berbeda. Bukannya tidak ingin berbaur, tapi dia yang selalu mulai duluan. Yah! Mulai deh. Tidak, maksudku ya begitulah. Tak perlu kuceritakan.

Aku memang selalu berbicara menurut sisi pandangku. Aku muak dengan semua ini. Aku muak dengan kehadirannya. Yang membiarkan kakak bekerja berat sementara ia hanya tertidur. Jika kakak pulang dari bekerja lantas segera menyiapkan apa yang suaminya inginkan. Aku juga muak pada keadaan ini. Ibu dan aku yang mesti tidur di ruang depan, ruang tamu. Berteman dengan sepeda dan motor, dengan tumpukan buku-buku incunabulaku. Tidak, belum hingga lima abad usia bukuku. Maksudku, buku-buku semasa sekolah SMP dan SMA dulu. Aku benci tatkala ia membentak istrinya dan kadang juga ibuku. Aku geram melihatnya mengusai televisi sehingga ibu tak dapat menonton barang semenit pun. Aku benci mendengar dengusannya.  Oh iya, malah akhirnya kuceritakan juga ini. Biarlah.

Pernah sekali waktu, aku lepas kendali. Dadaku naik turun dengan cepat dan napasku tergesa-gesa. Aku tidak tahan lagi mendengar ia mengomeli kakakku. Aku melabraknya. Dan dia pun membalasku, memarahiku. Persetan dengan semua itu!. Siapa dia seenaknya membentak kakakku yang sedang mengandung itu. Ah! Iya aku lupa ia suaminya, pemimpin bagi keluarga kecil mereka. Dan ah iya! Apa kakakku hanya sebagai pelayannya sehingga berhak menerima kata-kata kasar?. Aku mendampratnya habis-habisan hingga ibu dan kakak ketakutan. Mungkin juga semua tetangga mendengar pertengkaran kami.

Ya ya aku tahu, memang seharusnya aku tak ikut campur dengan persoalan rumah tangga kakakku. Dan seharusnya pula seorang istri memang lebih patuh pada suaminya. Terbukti kakak tak pernah membelaku. Oke! Aku pergi. Ya, rasakanlah kemenanganmu sementara aku pergi.

Ibu terus menengahi dan mendiamkanku supaya aku tak marah-marah lagi. Ibu selalu berpihak padaku. Aih! Aku masih teringat saja wajah lelaki itu yang lagi marah-marah. Hitam tersapu merah membara. Urat-uratnya terlihat dan rasanya hampir mau copot. Aku menarik napas dan mengembuskannya. Huh.. Hah.. Huh.. Hah. sabar…

                                                                        ***
Ketika ku ingat saat itu, aku menangis lagi. Kadang aku menyesal. Kadang juga aku puas. Dan pada akhirnya yang lebih sering kulakukan adalah menangis dan menangis lagi. Biarlah orang mau bilang aku cengeng. Maafkan aku ibu, maafkan aku kakak. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan ibu dan maaf, aku hanya bisa merepotkan kalian berdua.

Aku menangisi segalanya. Aku teringat akan pilu dari para tetangga. Teringat tangisan ibu, tentang bentakan orang-orang terhadap keluarga kita. Aku menangis lagi mengingat masa lalu ibu, melihat kakak yang hampir sama takdirnya dengan ibu. Merasakan keadaanku yang tak berubah, jadi lebih baik. Aku muak juga pada diriku, mengapa tak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah ini semua. Aku lelah pada keadaan ini. Keadaan yang membiarkan diriku sendiri memakan makanan basi, melihat iri pada teman-teman yang rasanya leluasa melakukan apa saja. Mereka yang tidak merasakan dicemooh orang lain. Ah! Atau juga pernah mungkin. Ya..

Sabtu, 12 Juli 2014

-Ironi Demokrasi-



Siapa yang menyangka bakalan begini
Sana bingung sini bingung
Rakyat proletar makin jadi linglungnya
Siapa pemimpinku? Katanya
Kaum marginal berkelakar sejadi-jadinya
Bilang dan menghasut pada yang awam
Para petinggi dan si kaya tak ambil pusing
Ada yang menerima apa adanya
Karna katanya setiap calon perlu dihormati
Ada yang teguh pendiriannya
Berseteru atau juga tidak dibelakang
Mendengungkan kata-kata kritis
Bilang ‘Punyaku yang benar!’
Tapi bukan berarti punyamu tidak
Ya setidaknya bolehlah kamu punya kesempatan
Tapi jangan mendahului punyaku, oke?

Belum selesai, belum
Kami masih harus tunggu satu pekan lagi
Diantara dua ini siapa yang jadi
Tak tahu kami
Banyak yang bilang bangsa kami miskin
Tidak maju-maju
Ya, buktinya masih juga jadi negara berkembang
Sebenarnya kami bisa
Kami sama-sama punya hak
Tapi ada yang tertahan, entahlah

Jangan paksa kami juga jangan semakin merendahkan kami
Jangan menuntut kami juga jangan semakin membaiki kami
Toh kami bukan semuanya para militer dengan baju loreng
Toh kami bukan semuanya autis dengan keterbelakan mental
Sudah, sudah
Kami pasti akan terima entah itu siapa
Satu hal yang penting dan camkan!
Jangan curang
Jangan main belakang
Jangan ngotot sampe urat copot
Kami, sebagai rakyat
Memberi kesempatan siapa saja yang mau jadi wakil kami
Memberi kuasa untuk memimpin kami
Bantu kami juga supaya tidak jadi bangsa yang kecil lagi
Kami mau bergotong royong kepada kamu siapa saja
Tanah demokrasi harus dijunjung tinggi, bukan?

Tangerang, 12 Juli 2014







-Para Pengangguran-



Kau ada dalam tempurung
Meringkuk, menyusup di telan bumi
Di duniamu sendiri
Lenggang kangkung buat susah semuanya
Bisanya cuma tiduran dengan kaki diangkat keatas
Bersandar bak tuan rumah
Iya, tuan rumah miskin!
Bila hujan datang makin jadi lakumu
Terpejam berhari-hari tak bangun bangun
Mendengkur dan berliur
Kamu seperti mayat hidup tak tahu malu
Kau habiskan nasi
Kau habiskan air
Kau habiskan uang
Kau habiskan pula baju
Malas lagi untuk mencuci
Kalau tidak merokok ya nyeruput kopi
Itu saja kegiatanmu
Bila bosan, nongkrong di teras rumah
Bila cuaca terik, paling-paling kau pergi ke rumah kawan
Ngobrol sepanjang hari
Ironi para pengangguran!
Apa yang diobrolkan?!
Tidak bermutu dan membuang-buang waktu
Coba lihat anak istrimu
Lihat istrimu!
Kerja banting tulang untuk beli makan
Lihat coba!
Istrimu lagi ngandung anak kedua!
Tapi kerjanya jangan dikata
Dari gelap hingga gelap lagi
Berkutat dengan mesin-mesin pemamah tenaga
Tahu kau seberapa ukurannya?
Lebih dari badan manusia
Bahkan tubuhmu yang merepotkan itu hanya secuil darinya
Lihat coba!
Anakmu bermain-main dengan tanah tetangga lagi
Meramunya jadi bumbu kacang
Lalu ia aduk-aduk dengan daun kerdil yang tumbuh beringas
Tahu kau apa itu?
Gado-gado kematian!
Mana nyalimu, hai pengangguran
Mana realisasi dari anganmu
Katanya mau diwujudkan
Katanya kau pasti sukses
Sebatas impian!
Kau hanya jadi pengobral janji seperti tikus-tikus itu
Jangan salahkan Negara
Jangan salahkan pemerintah
Jangan salahkan keluargamu
Jangan salahkan juga pendidikanmu
Bukan, itu semua bukan patokannya!
Tiga kata acuannya
“MAU atau TIDAK?”
Kau tambah pecundang bila pilih ‘atau’
Putuskan! Putuskan!
Hai, kau para pengangguran

Tangerang, 12 Juli 2014