Senin, 09 September 2013


Para Tahanan Alam...


         Ada langkah yang tak bisa lagi aku bagi, meski tak satupun jalan bersimpang, meski terang itu sudah diseberang langit di ujung cakrawala. Dan meski terlihat, tak satu jua tampak memadai di hari yang benderang ini.  Setapak kaki tak tersanding di perbatasan, batas penuh harap, membatasi kepiluan sang petualang. Oh! Betapa sakitnya kesendirian, berjejak sendiri, melintas sendiri dengan sebilah tongkat lusuh dan tua. Meringis tak sadar diri, berjalan tak tentu arah, kemanakah harus pergi di dunia nan sepi ini?
    Para ilalang mengangguk ratapi kemeranaannya, memasung layu yang tak berkesudahan. “Tuan, beri aku air seteguk tuk hilangkan ibaku sendiri tuk habisi ambisi yang lunglai hampir mati. Aku telah berdiri mengibasi langit-langit lama sekali. Aku tak pernah tertuju karna disini singgasanaku. Aku terima derita yang kau sebut ini tak begitu menyengsarakan batin, ku ikhlasi apapun yang tak pernah aku genggam yang tak pernah bisa aku sentuh dan mereka si petualang zaman dengan mudah mengatakan mereka yang sengsara, mereka yang lebih tercatuti bahagianya, mereka yang harus dikasihani dan mereka yang mesti rasakan dunia surgawi. Tapi bolehkah aku sebentar saja rasakan jua cinta, rasakan jua belaian embun di tengah-tengah lamanya dekade yang sungsang ini. Ya, aku bukan lagi rindu tapi ingin mengharui rasaku, jiwaku memeluk kasih yang itu milikku. Atau kasih aku jawaban bisa tidak aku tuk bertahan? Bisa tidak aku tuk lewati ini?.”
     “Kau terlalu khawatirnya sehingga tak hiraukan makna-makna indah yang Tuan limpahkan. Hebat kau, bertandang selama ini di dunia fana, semu banyak raja-raja pesing agungi dirinya sendiri, ramai namun sudutnya sesunyi kota yang mati. Bohong, apa guna bila tetap jua sedih yang didapat. Menjaga cidera, apa artinya bila tetap meradang tambah memilukan. Jiwa, hati oh! Terluka semua. Tapi lihat, ketahanan hadapi itulah indahnya, kau rasakan dan kau tapaki jejal demi jejalnya tanpa kau sadari. Indah! Cantik! Memesona. Namun yang aku tahu Tuhan ingin kita jalani saja, resapi saja, telaah cintaNYA yang bijaksana. Biarpun kita tak punya cinta, tapi Tuhan tetap hadirkan itu. Sembunyi, ya karna hanya hati yang dapat rasakan. Ragamu mungkin akan mati tapi ya! Tapi lagi. Dengan itu aku bisa jelaskan, dengan itu jua aku bisa lebih mengerti. Roh-roh banyak tersenyum karna mereka lagi nikmati cinta itu, kasih itu, belaian itu.”
         Aku jadi ingin menangis. Aku malu aku jua selalu meratap, aku jua selalu curiga akan bahagia. Pernah aku, marahi langit teriaki udara betapa benci aku, betapa tersiksa diri ada dalam begini. waktu kapan dan dimana pula tempat tuk aku berhijrah dari ini dari kehampaan ini?. Akhirnya, aku bangga, aku bisa petiki satu persatu maknanya. Ah! itu saja.

Tidak ada komentar: