Senin, 16 September 2013

Kamu dan Puisi II


Dengan sedikit kata tak sempat
Ku uraikan jua rasa yang tak pernah terbaca
Dengan atau tanpa kasihan
Ku lepaskan jua rindu yang tak pernah teraba
Bila ini terdapat batas
Aku ingin memberi terusannya
Bila ada dinding yang tinggi
Aku ingin membuat ruasnya
Setidaknya…
Lewat semu pun, tak apa
Aku tahu dan kau juga
Rasa yang terhimpit
Yang akan kita tinggali
Disini, mungkin

             Biarkan atau tidak mengapa tak hiraukan, aku ingin memejamkan mataku saja. Kau lihat karna tahu atau juga tidak, bolehlah keanehan yang tampak justru itu yang memang adanya. Kadang aku berkeberatan Tuhan ciptakan hati, sulit juga memahami kepada siapa hati ini dicurahkan, tapi juga iba bila tak satupun yang waras karna tak bisa rasa apa-apa. Hidup ini memang pedih, lebih pedih bila itu kita buat sendiri. Kekejaman datang karna kita yang lebih dulu menghampirinya. Bodoh, karna aku yang sendiri mengatakannya. Aku tak ingin terkurung lagi, kungkungan ini membuatku lemas tak keruan. Palsu, jika banyak yang bilang ‘cinta tak harus miliki’. Lebih baik begitu, dan lebih jitu bila dari awalnya kita mengerti artinya itu adalah hindari.
          Aku tidak memiliki kepercayaan diri, sepertimu. Kau tawarkan banyak hal, kau memberi apa yang kau punyai. Aku memang tak banyak tahu, namun sepertinya jelaga matamu ungkapkan isyarat itu. Aku hampa sekali saat ini, aku ingin bercerita saja padamu tepatnya bayangmu. Aku pernah berada ditengah keramaian, membekuk, meringkuk, hingga aku kikuk tak dapat bernapas. Sesekali juga aku sering memasuki sepi, gelap, remang merana, hingga ke ujungya tak kutemui samar-samarnya cahaya. Apa mesti yang kulakukan saat begini. Aku memang gila, tapi tak apalah setidaknya disini aku dapat berkesah. Aku tidak mengharap lebih, karna aku berkata saja apa yang ingin aku ungkapkan.

Dibalik awan yang menggerumbul
Ada pelik singkat yang tak bisa dijelaskan
Meniti titik pertitiknya air hujan
Membuyarkan harapan yang sempat terpasang
Berlarian kesana tak kemari
Menjunjung kau sendiri hingga jauh
Tinggal sepercik auramu
Buat aku tak rasa hadirmu
Lagi…

             Dan lagi.. Aku tak mau ini jadi semakin jauh. Tak punya tepi, bergiring terus dan terus melampaui batas nyatanya. Kenapa kita ada di tempat yang sama, bertemu disatu jalan yang sisinya pun kita pernah hinggapi walaupun tidak berbarengan. Sering beradu pandang tapi tak mengerti maksudnya apa. Atau tak sepantasnya aku seperti ini, mengurusi hidupku saja belum sampai-sampai aku di titik terangnya. Apalagi mendamba ragamu, bercerita sebenar-benarnya dihadapanmu. Cukuplah perbedaan itu jadi pembatasnya, ya kita berbeda. Tapi mengapa jua masih terus aku membicarakanmu bila adanya tak pernah mampu dijabarkan. Terus terang, aku juga tidak bisa lupa mengenai ambisiku. Apa kau baca kisahku tentang ibu? Mungkin aku tidak sepertimu, yang beruntung. Tapi rasa-rasanya aku yang lebih beruntung. Atau, ya, kita sama-sama beruntung setidaknya kita telah berwujud.
            Aku bicara pada bayangmu, Jangan paksakan membaca cerita yang berbelit ini, karna kau akan sulit tuk memahaminya. Sedikit-sedikit aku berimu harap, namun kemudian aku bertekad musnahkanmu dalam khayalku. Sebentar-sebentar aku jadi ambisius, namun sebentar laginya aku mematikan jiwaku sendiri dengan kata-kataku yang berantakan. Seperti itulah kiranya jalan hati beserta pikiranku. Bisakah kau bantu aku, tapi jangan harapkan apapun karna aku tak punya apa-apa sebagai imbalannya. Selain hati.

Tidak ada komentar: