Selasa, 08 Juli 2014

-Cerita lima dan enam- (Part 1)



8 Juli 2014

Aku sedikit lupa bagaimana ceritanya. Yang jelas di kedua hari itu di tanggal lima dan enam Juli adalah hari yang berkesan untukku. Bertemu para malaikat-malaikat kecil yang cantik dan tampan. Mereka semua begitu polos dan terlampau lincah. Hal yang paling mendebarkan adalah melihat mereka berlarian, kesana-kemari. Aku cemas tatkala mereka akhirnya terjatuh dan tersungkur ke tanah. Aku takut saat mereka tiba-tiba berkelahi dan menangis karna di saat-saat begitu aku sulit mendiamkan mereka. Aku memang tak punya bakat menghibur anak kecil. Tapi, yang aku bangga pada mereka adalah ketika mereka tak saling bermusuhan lama seperti halnya orang dewasa. Biasanya orang dewasa itu jika sudah bersengketa dengan yang lain pasti dampaknya berlangsung dalam jangka panjang. Berbeda dengan anak-anak ini, didorong atau dipukul sedikit dengan temannya paling-paling mereka hanya menangis atau membalasnya dan seketika berbaikan lagi, bermain bersama lagi.
Sifat mereka bermacam-macam. Ada yang pendiam, sangat diam. Tak berbicara sepatah katapun selama kegiatan berlangsung. Aku jadi tertawa sendiri, rasa-rasanya aku melihat diriku sendiri didalam diri anak itu. Pemalu dan mudah menangis jika sedikit saja diusik. Ada yang cerewet dan banyak bicara, sepanjang hari mengganggu temannya mencoba menjerat ke dunianya. Ada yang suka melawak, sebentar-sebentar tertawa nyaring dan bertingkah laku seolah ia satu-satunya yang harus menjadi pusat perhatian. Ada yang diam-diam menerobos ke sebelah pembawa acara, mencoba mengalahkan gurauan renyah dari mc tersebut. Menjadi banci tampil dan meneriaki kata-kata yang belum jelas diucapkan kepada teman-temannya. Sang mc pun menimpali dengan lawakan yang lebih jenaka sehingga seluruh anak dan peserta tertawa terpingkal-pingkal. Pintar sekali si pembawa acara itu, pikirku.
Ada lagi, yang hanya menjadi pengikut setia teman-temannya yang lain. Temannya tertawa, ia ikut tertawa. Temannya diam, ia pun ikut diam. Tapi, mereka semua sama, lucu dan menggemaskan. Aku tak menolak jika ada salah satu dari mereka minta kupeluk, tiduran manja di pangkuanku. Aku menyayangi mereka, tanpa alasan tanpa pamrih dan tanpa basa-basi. Berada di dekat mereka serasa begitu menyenangkan.
                                                                        ***
“Tante rindu, kalian. Tante juga ingin memeluk erat tubuh kalian yang mungil. Berada di dekat kalian dan mendengar semua cerita yang tak sempat tante dengar selama ini. Kalian pasti sudah bertambah besar dan pintar. Terbesit dalam ingatan tante tentang kalian. Ingin bertemu tapi tak mampu. Hanya kepada para malaikat kecil ini tante meluapkan segala rindu yang mendalam kepada kalian, kemenakanku.”
Aku teringat senyumanmu, wajahmu yang lugu. Membuatku termangu di sela-sela kegiatan ini. Melihat ke sekeliling, yang ada hanya begitu banyaknya anak-anak kecil. Aku tersenyum beku dan menangis pilu dalam hati. Aku takut jika kau akhirnya tak lagi mengenaliku karna jarang bertemu sekadar untuk melepas rindu. Malah ditemani dan bermain dengan orang lain. Tak ayal, keakraban dengan orang lan itu lebih kental daripada dengan saudara sendiri. Lantas kau mengabaikanku ketika aku datang. Menapik, padahal aku ingin sekali mencium pipi dan keningmu.
Dari belakang ada makhluk kecil menerjang. Melingkarkan kedua lengannya pada leherku, seketika membuyarkan lamunanku. Lalu aku terkesiap melihat ke sebelah kananku. Dibawahnya kutemukan bebarapa kertas bergambar, kertas yang tadi digunakan untuk micro teaching. Ku berikan semua kertas bergambar itu padanya, berharap ia tambah giat belajar karna di atas kertas itu terdapat gambar hewan dengan makna bahasa inggrisnya. Tak ku sangka, salah satu temannya ada yang kecewa. Ia iri melihatku memberikan kertas bergambar itu kepada temannya. Ia bilang “Itu kan milik orang lain, kenapa kakak mengambilnya dan memberikannya pada masya?”. Oh tuhan, apa yang baru saja kulakukan. Tak seharusnya aku mengajarkan kepada mereka yang tidak baik. Aku malu seketika, bagaimana tidak anak sekecil itu mampu menasihatiku dengan kata-kata sebijaksana itu. Oh, rasanya wajahku ingin ku palingkan dan kututupi dengan jilbabku ini. Ah, gawat!
                                                                        ***
Adzan maghrib akhirnya berkumandang, mendengungkan lafadz-lafadz nan mengagumkan. Aku selalu terpesona mendengarnya apalagi jika sang mu’adzin suaranya begitu merdu dan indah. Tak bosan aku rasanya untuk berdiam diri lama sekadar mendengarkan adzan hingga habis di lafadz terakhir Lailahaillallah.
Para panitia berkeliling membagikan ta’jil untuk berbuka. Anak-anak berebutan ingin juga mendapatkannya. Ada teh manis, kurma dan es buah. Fina yang sejak tadi hanya melihat ternyata sudah mengincar makanan untukku berbuka. Dengan polosnya ia meminta “Ih, kakak dapet teh manis sama kurma. Boleh buat aku gak ka?” Wajahnya melas sekali, penuh harap. Berharap aku benas-benar akan memberikan makananku. Dan aku pun tak tega. “Iya, ini buat kamu ya sayang” aku tersenyum sambil memegang pipinya dan sedikit membenarkan jilbabnya yang kulihat selalu miring. Sudah diperbaiki tetap saja kembali seperti semula. Acak-acakan lagi.
Mimik wajah mereka itu tidak dibuat-buat. Polos ya polos. Tenang ya menenangkan. Walaupun ada beberapa dari mereka yang sulit diatur. Tapi, bagiku itu semua adalah cara mereka untuk mengekspresikan diri mereka sendiri. Tinggal kita sebagai orang dewasa mampu atau tidak membacanya dan memberikan tanggapan yang sesuai dan tidak menyakiti perasaan mereka. Hingga akhirnya mereka tetap bersikap apa adanya, sesuai yang diperintahkan dari dalam hati dan pikiran mereka.
Ada dua anak laki-laki yang aku tak bisa lupa tingkahnya. Kalau tak salah yang satu namanya fadil dan satunya lagi aku lupa karna aku tak sempat bertanya padanya. Si fadil itu berbadan gemuk, berkulit putih. Tingkahnya lucu dan menggemaskan, lincah dan suka berlarian kesana-kemari tak henti-henti. Gigi atasnya banyak yang tanggal jadi tak jarang kami para peserta dibuatnya tertawa hingga terpingkal-pingkal karna melihatnya yang sedang tertawa itu tanpa sengaja memamerkan gigi-giginya yang sulit dideskripsikan bagaimana  bentuknya.
Anak yang satunya lagi, aku ingat ia begitu tampan dan mudah buat aku jatuh cinta. Masih kecil tapi sudah buat orang terpesona. Tingkahnya tak berbeda dengan fadil. Ketika seorang panitia sedang membagikan es buah, ia lantas dengan sigap meminta satu gelas. Lalu jika panitia tersebut berpindah ke tempat lain, ia menyembunyikan es buah miliknya dan berkata pada panitia tersebut kalau ia malah belum dapat. Lalu ia mendapatkan lagi satu. Tak puas dengan hanya dua gelas yang padahal belum ia seruput sedikitpun. Ia berlari ke tempat dimana es buah itu dibuat. Ia mengambil lagi satu dan jadilah tiga es buah dimiliknya. Namun, masih tetap saja ia tak puas lantas ia pergi menerjang piring-piring makanan yang telah panitia siapkan di meja depan. Ia mengambil beberapa kue dan kembali ke tempat duduknya. Begitu seterusnya jika ia merasa belum terpuaskan.
Aku hanya menyaksikan setiap tingkah laku mereka. Sedikit-sedikit tertawa, sedikit-sedikit tak menyangka. Mereka bahkan lebih hebat dariku ketika aku masih kecil dulu. Tapi, aku kini belajar dari mereka. Bahagia itu sederhana, bahagia itu saat kita bisa menikmati berada di tengah orang-orang yang menyayangi dan menerima kita apa adanya. Tak perlu berpura-pura menjadi orang lain ataupun menyembunyikan diri kita yang sesungguhnya. Di hadapan teman-teman justru yang terbaik adalah mengekspresikan segalanya. Bercengkrama dan tak perlu takut untuk berbicara. Karna dengan begitu, perlahan sebenarnya kita sedang mencari seperti apa jati diri kita dan memilah barangkali ada yang tak sesuai untuk kita. Menyeleksinya sehingga menjadikan sebuah diri yang disebut ‘Inilah diriku yang sebenarnya.’
                                                                        ***
Bakti sosial pun selesai, tugas untuk menemani anak-anak cerdas ini juga berakhir. Mereka berbaris sangat rapi dan menyambut giliran masing-masing untuk bersalaman dengan kakak yang sedari tadi menemani mereka. Diakhir acara mereka semua mendapatkan bingkisan dan kenang-kenangan berupa buku dan peralatan sekolah lainnya. Kebahagiaan mereka, canda tawa mereka telah menjadi kebahagiaanku seketika. Biarpun hanya beberapa jam bersama tapi, rasanya sudah menjadi bagian dari hidupku yang tak bisa begitu saja untuk dilupakan.
Kakak tidak akan melupakan kalian semua. Kenangan bersama kalian akan selalu kakak ingat. Terima kasih sudah mengajarkan kakak sehingga membuat kakak mengerti. Terima kasih juga membuat kakak penuh senyuman sore ini.
-Pelukan hangat dan cium dari kakak :*

Jumat, 04 Juli 2014

-Puisi untuk buruh-



4 Juli 2014
 
Teruntuk buruh tangerang
Aku miris melihat jari-jarimu tersayat-sayat
Sebelah kanan pisau dan sebelah kiri bawang
Beratus-ratus bahkan beribu-ribu
Kau babat habis kulitnya hingga buat ia bertelanjang
Lihat! Matamu tersayup-sayup
Kadang mengatup kadang mekar
Kau, si buruh bawang

Teruntuk buruh tangerang
Berdiri seharian, apa tak letih?!
Dalam ruangan panas dan kerja berjejal
Menunggu pakaian tak bermotif datang
Dan sigap untuk di beri warna
Istirahat, makan berebutan
Makannya cuma nasi pakai gorengan
Kau, si buruh sablon

Teruntuk buruh tangerang
Kau merakit barang yang sudah ada
Dengan cepat, cepat secepat kilat
Membungkusnya jadi rapi
Memilah barangkali ada yang salah
Sedikit saja, kau langsung kena marah
Waktu kau habiskan untuk buang tenaga
Kau, si buruh pabrik

Kau lebih senang kerja begini
Setiap bulan yang penting dapat upah
Walau tidak seberapa
Dengan baju seragam kebanggaan
Ada biru, hijau, kuning dan masih banyak lagi
Setiap hari hidup cuma pas-pasan
Pas untuk makan, pas untuk bayar kontrakan
Mesti irit jika sudah tanggung bulan
Gelagapan jika gaji tak datang-datang
Pinjam kesana-kemari untuk beli susu si bayi
Perut keroncongan, makan tinggal asal

Setahun sekali dapat THR
Langsung habis beli baju lebaran
Uang di kantong tak pernah bisa tebal
Setiap yang masuk keluar dan keluar lagi

Buruh! Tidak!
Para karyawan!
Sampai kapan Negara kita jadi Negara berkembang?!
Mari bersatu rapatkan barisan
Takut? Mati saja!
Ayo!!




–Cerita Ibu-



3 Juli 2014
Waktu itu aku sedang sibuk menantikan jam pulang. Di atas bangku, aku duduk tak keruan. Pak dosen terus saja meceracau walau sebenarnya sudah tiba waktu pulang. Bibirku mengatup dan serasa terhirup kedalam mulutku sendiri. Tanganku sebentar-sebentar mengepal lalu kemudian bertopang dagu. Tatapanku tak tertuju pada penjelasan pak dosen lagi. Heran aku, rasanya bapak itu begitu senang mengajar hingga harus meluangkan waktu dengan sedikit menambah jam terbangnya. Mataku melirik ke kanan, ke kiri dan ke depan secara berulang hingga bosan akhirnya aku jadi seperti orang linglung. Aku jadi melamun atau jika pak dosen menatap ke arahku, aku lantas berpura-pura memberikan kesan jenius. Dan ketika bapak itu menuju ke arah lain, aku kembali lagi pada posisi nyamanku, layu dengan tatapan kosong. Menyeringai halus dalam diam.
“Ibu, pasti sudah menungguku disana” gerutuku dalam hati. Bagaimana ini, di satu sisi aku tak ingin mengganggu jalannya perkuliahan namun di lain sisi dan pastinya yang timbangannya lebih berat, aku juga tidak ingin membiarkan ibu sendirian terlalu lama menunggu. Akhirnya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Pak dosen melongok jam tangannya, ia sadari waktu ternyata sudah lewat jam 10.
Di stasiun Manggarai, kami bertemu. Aku melihat ibu sudah terduduk di depan pintu masuk stasiun. Aku masih ingat, Ibu memakai baju bunga-bunga berwarna biru tua dan celana legging hitam berbalut kerudung oranye di kepala. Seperti itu gaya ibuku, casual dan asal tembak warna yang penting dipakainya nyaman. Kami bercengkrama sebentar sebelum pergi dan kembali ke tempat kosanku. Ibu selalu saja memiliki cerita jika bertemu denganku. Beliau menceritakan segala hal yang terjadi di rumah. Biasanya mengenai kakak atau keadaannya sendiri yang kesepian karna tak ada aku.
Kakak, ya. Ia kakakku satu-satunya, perempuan, Ia sedang mengandung sekitar lima bulan. Ibu bercerita tentang keadaan kakak yang tidak lagi muntah-muntah seperti pada awal kehamilannya. Syukurlah. “Maafkan ibu ya, karna ada suami kakakmu makanya kau tak bisa berkunjung dulu ke tangerang.” Kata ibu sembari menatapku dengan sayu. “Tak apa bu tak apa yang penting semuanya baik-baik saja.” Sambil ku genggam tangan ibu berharap dirinya tak akan merasa sepi lagi.
Aku tidak bisa menceritakan terlalu jauh mengenai kakak iparku. Yang jelas, tempat tinggal kami di tangerang tak bisa dikatakan layak jika mesti menampung lebih dari tiga orang. Rumah kontrakan, ya, dengan tiga petak kamar dan satu kamar mandi menempel dengan tembok dapur. Bukannya, aku juga tak ingin pulang namun aku hanya tak ingin mengganggu ketentraman keluarga kakakku. Dan lagi dengan keadaan kakak yang pastinya perlu mendapatkan perhatian khusus dari suaminya. Kata orang, wanita yang sedang hamil itu lebih labil jiwanya dan seharusnya disaat begitu suaminyalah yang setia mendampinginya supaya mendapatkan kasih sayang dan perhatian.
                                                                        ***
Ku tenteng bawaan ibu dan kami mulai pergi meninggalkan stasiun. Kantong kresek, itulah yang selalu di bawa ibu. Biarpun ada tas yang kurasa amat layak di pakai namun ibu tetap menggunakan kantong itu dan membiarkan tasnya menganggur di rumah tak terpakai. di dalamnya ibu membawa beras satu liter dan pakaian gantinya untuk menginap semalam di kosanku. Ibu pernah bilang, “Sengaja ibu memakai kantong kresek, ini ibu lakukan supaya tak akan ada yang berani menjambret tas ibu.” Ibu, ibu. Tapi, bukankah justru yang seperti ini resikonya lebih besar. Karna menurutku, tas plastik ini kan lama-kelamaan akan rapuh dan cepat rusak. Kalau sudah rusak, ia dapat mudah sobek dan nantinya barang-barang yang ibu bawa malah terjatuh di jalan. Aku pernah memberitahu ibu perihal resiko itu, namun jawaban ibu “Tenang saja, ibu kan sudah mendobelnya jadi tak akan masalah.”
“Ya sudah kalau memang begitu menurut ibu” jawabku pasrah.
Di kosan, kami melanjutkan lagi pembicaraan yang sempat tertunda tadi. Maklum, kami tak biasa berbicara jika dalam angkutan umum ataupun di depan khalayak ramai. Ibu memulai satu kata dengan garang. “Sudah, jika kau ingin pulang pulanglah! Abaikan kakak iparmu.”
“Kau tahu? Ibu juga bosan di sana. Selain tak ada kau juga karna ibu tak bisa menonton televisi. Yang benar saja, masa hingga tivi saja dikuasai olehnya!
“Ah! Ibu tak sabar ingin kau cepat-cepat lulus dan bisa segera bekerja. Setelah itu kau mengumpulkan uang banyak dan kita beli rumah untuk kita berdua saja. Ibu selalu membayangkan itu, melihat kau akan bahagia bisa menjajani dirimu sendiri sesuka hatimu. Tidak seperti sekarang. Ibu tahu, kau pasti merasakan kesusahan bukan? Dengan berbekal uang saku yang tak seberapa dari ibu dan kau mesti selalu irit memakainya.” Ibu terhenti sejenak dan mengusap air matanya yang perlahan membasahi pipinya.
“Ibu tahu, kau ingin seperti anak-anak lainnya. Menikmati masa muda dengan bersenang-senang, memakai pakaian bagus, melakukan segalanya sesuai keinginanmu. Bertualang ke berbagai tempat dan berlibur bersama teman-temanmu. Tapi, gara-gara ibumu yang bukan orang kaya kau jadi terkena imbasnya. Kau harus hidup serba pas-pasan setiap harinya. Ibu tak pernah bisa membahagiakanmu bahkan dari kau balita, kau sudah hidup apa adanya.”
Aku hanya menjawabnya dengan kata-kata yang sama. Ibu juga, selama hidupmu, ibu tak pernah merasakan kebahagiaan bukan?. Tahukah ibu? Kau justru sudah terlalu berlebihan memanjakanku. Kau banting tulang dari dulu untuk menghidupi kakak dan aku. Bersusah payah, pergi di gelap hari dan pulang juga langit tak benderang. Untuk apa semua itu? Supaya kakak dan aku bisa hidup layak seperti anak-anak lainnya. Jika ada manusia yang paling tangguh dan lembut hatinya, itu kau ibu. Tidak ada yang lain.
Ibu bercerita lagi tentang masa kecilnya. Beliau sudah mulai bekerja, mencari nafkah sendiri semenjak kelas empat di bangku sekolah dasar. Kerjanya serabutan, membantu nenek, sesekali menanam sayuran di lahan orang lalu jika sudah masak di jual ke kampung-kampung. Kerja apa saja yang penting halal, tapi lebih berhubungan kepada pertanian. Pergi ke sekolah dengan menaiki sepeda atau juga jalan kaki berkilo-kilo jauhnya. Setelah pulang, bekerja lagi membantu nenek. Tak putus-putus, sekeras itu kegiatanmu pun setelah menikah dan memiliki anak.
Makin jadi sakitmu, aku tahu itu setelah ayah pergi meninggalkanmu. Ah! Sebenarnya aku tak ingin membahasnya lagi. Tapi, yang aku heran aku tak pernah melihatmu menangis saat itu. Apa kau sengaja menyembunyikannya?
                                                                        ***
Kini, kau semakin layu. Keriput sudah berkeliaran di mana-mana, di setiap sisi tubuhmu. Di tanganmu, kakimu dan juga di wajahmu. Mulai terlihat juga bintik-bintik penuaan dan garis berlipat di ujung matamu. Kecantikanmu seraya memudar, tapi tidak senyummu ibu.
Jalanmu tak segagah dulu. Aku ingat, setaip kali aku berjalan bersamamu pastilah aku terdahului. Kau selalu bilang, aku lamban dan ibu tak bisa menungguku terus. Bisa-bisa segalanya jadi terlambat karna aku.
Jadi terlintas dalam pikiranku, sebuah pertanyaan. “Mengapa manusia begitu cepat menua?”
Aku melihat wajahmu tak henti-henti. Dalam lelapmu, kau begitu tenang. Kelelahan dan kepayahan, kutahu. Tapi kau menapiknya. Lihat! Kelopak matamu yang lagi terkatup itu membusung ke dalam jadi bulatan kawah yang begitu cekung. Dan kau terbangun seketika. Aku pun membuang pandangku. Kau mulai bercerita lagi. Kali ini ibu ternyata lebih pasrah. “Mengapa aku mesti berlarut-larut dalam kenestapaan ini? Toh, ini semua belum juga ditakdirkan untuk berubah jadi indah.”
“Jangan pikirkan lagi, sudah. Perkataan orang juga. Jangan dihirauan ya!. Kebalkan dirimu dari ocehan tetangga. Buat dirimu sendiri tersemangati oleh cerita-ceritaku tadi. Kamu sudah mengetahui segalanya. Tentang saudara-saudaramu juga, bibi-bibimu. Tidak ada satupun dari kakak-kakak ibu yang bahagia hidupnya. Mereka semua bahkan mengecap pahit yang lebih dalam dari ibu. Beruntung ibu masih memiliki mereka dan status ibu juga sebagai adik terbungsu. Jadi masih ada yang menasehati dan membantu ibu. ”
Aku mengerti. Cerita, ya. Semua itu akan menjadi pengalaman. Dan pegalaman itu adalah guru terbaik kita. Mengajari kita bukannya untuk mengukung terus diri dalam penjara jiwa sendiri. Terperosok dan menerima jatuh hingga ke jurang yang terdalam. Bukan. Tapi, itu semua sebagai proses. Proses hidup yang memang mesti dijalani setiap orang. Tak terkecuali. Bisa jadi ada yang lebih getir perjalanan hidupnya. Bahkan hingga tak punya kendali dan mati sia-sia.
Tuhan, ya. Bercerita saja padanya. Sang khalik akan senantiasa mendengar hamba-nya. Karna dia yang Maha Kasih dan Maha Penyayang.
Terima kasih ya Allah dan Ibu atas ceritamu J

Kamis, 03 Juli 2014

‘Sepi’ namanya

-2 Juli 2014-
Kesendirian yang menyesakkan, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain terus bersamanya. Menjamahnya hingga ia menelusup jauh ke dalam batinku. Aku sengaja membiarkannya bermain-main di dalam hatiku, berlarian kesana-kemari. Biarpun cuma sepi, tapi ia ada dan hidup dalam relung hatiku. Setidaknya dengan begini ia dapat selalu menemaniku kapanpun aku menangis atau diam tak bersuara. Ia yang lagi bermain-main menarik perhatianku, seketika aku terbius dan ikut bermain dengannya. Aku diajaknya pergi ke tempat-tempat yang bagiku begitu istimewa, aku mendengarnya bernyanyi dan menyaksikannya bercerita. Tapi, dari semua kegiatannya ia lebih sering bercerita. Katanya, bercerita adalah hal yang paling baik dilakukan ketika seseorang telah banyak menyimpan sesuatu. Biasanya ia bercerita tentang petualangannya, perjalanannya yang katanya begitu panjang atau tentang awal bagaimana ia terlahir. Aku selalu mendengarkannya, menyimak setiap kalimat yang ia ucapkan. Apalagi yang harus kulakukan? Kupikir ini lebih baik, daripada aku merana dalam kesendirianku, seorang diri. Terkadang aku hampir mati dalam keadaan begini. Aku hanya bisa berkoar sendiri, menangis lalu terdiam dan berulang seperti ini setiap kali aku sendiri. Sedih, miris.
Katanya, ia terlahir karna panggilan. Ia memberitahuku bahwa jiwaku yang memanggilnya kemudian ia tercipta dan datang untuk menemaniku. Tangan jiwaku menggenggam erat tangannya, lalu seketika mengajaknya pergi untuk tinggal bersama jiwaku. Ia tidak menyesal ataupun berontak, justru ia senang memiliki teman seperti jiwaku. Belum ada yang bahagia secara tiba-tiba melihat keberadaanya, sebagaimana bahagianya yang ditampakkan oleh jiwaku. Senyum jiwaku buat ia luluh dan dengan begitu saja menuruti permintaan apa maunya jiwaku.
Lalu katanya, sebelum aku menyadari kehadirannya. Ia sempat bertualang kesana kemari. Melanglang buana hampir ke seluruh tempat di dunia. Ia tidak ingin memaksaku yang belum tahu apa-apa. Ia juga tidak ingin meminta-minta dan berharap yang mengemis-emis supaya aku menemaninya. “Biar aku tunggu hingga kau menyadari keberadaanku”, katanya.
Ia melanjutkan ceritanya, tentang destinasinya dan tentang perasaannya ketika melakukan itu. Ia bilang, ia sangat menikmatinya. Perjalanan yang panjang dan menyenangkan. “Aku bertemu banyak orang dan semuanya mengesankan” tukasnya. Matanya kini menerawang jauh sekali seolah ia merasakan kembali pengalamannya itu. “Pertama kali memutuskan untuk bertualang, aku pergi saja tanpa tahu tempat itu apa namanya bahkan hingga sekarang kukira aku belum juga mengetahui nama tempat yang pertama kali ku kunjungi itu.
“Aku melihat bentuk senyum terbalik di awan, lengkungannya indah dan ia memiliki beraneka warna. Ia seperti menerobos di sela-sela awan, lalu aku mengamatinya, mengikuti arahnya di mana ia berujung. Panjang sekali, ternyata ujungnya bersentuhan dengan air, air yang deras, besar dan keras jatuhnya. Dulu, aku belum tahu apa namannya itu tapi, sekarang aku tahu bahwa yang memiliki warna bermacam-macam itu adalah pelangi dan air yang besar itu namanya air terjun. Oh, aku seakan terpesona, indah sekali. Aku tidak henti-henti melihatnya bahkan untuk beranjak barang sebentar rasanya aku enggan. Lama kelamaan, pelangi itu warnanya memudar dan hilang. Saat itu, aku serasa dicampakkan. Ah! Mengapa ia mesti hilang? Apa ia tak suka bila aku melihatnya lama-lama?!
“Dari situ aku mengerti, tiba-tiba saja. Pernah terngiang dalam ingatanku ada seseorang yang bicara perihal keadaan di dunia. Aku, mengapa bisa dapat ilham itu mungkin karna aku sesuatu yang terlahir dari reinkarnasi juga. Katanya, dunia itu palsu belaka dan kamu hanya diuji hidup di dalamnya. Mungkin ini maksudnya, bahwa keindahan dunia itu hanya sementara tidak akan selamanya.”
Seperti itulah jika ia berbicara, seperti sedang berkhutbah. Kemudian ia bercerita tentang perasaannya. Ia sempat merasa kesepian juga, katanya. Nah! Sepi juga dapat merasakan sepi. Jika ia kembali ke tempatku dan melihatku, ingin rasanya ia memelukku. Memberitahuku bahwa aku yang selalu menemanimu, kemari bersamaku. Tapi, selalu ia urungkan niat itu. Kala itu, ia melihatku sedang bahagia, teramat bahagia setiap hari sepanjang waktu. Ia tak ingin mengusikku biar sedetik pun.
“Saat itu, aku tak lantas meratap. Aku pergi lagi. Berjalan saja, berlalu supaya tak melihatmu dulu tapi, aku akan menjagamu dengan telepati. Aku bertemu nenek tua, ia sangat renta. Jalannya membungkuk, ada gundukan di punggungnya yang membuat ia sulit untuk berdiri tegak layaknya manusia-manusia lain. Ia memakai tongkat dan jalannya selalu terengah-engah. Ia tak bisa sering melihat ke depan, karna persoalan bungkuknya tadi. Ia lebih banyak menunduk jika ia kelelahan menghadap ke depan. Melalui tongkatnya ia raba tubuh jalanan. Aku tahu ia sangat lelah, lelah sekali.
“Dari situ aku memahami satu hal lagi. Hidup itu akan semakin sulit jika seseorang yang tertimpa masalah terus saja mengeluh. Betapa mengerikannya saat kau meniti arang panas dan kau egois inginnya bertelanjang kaki. Padahal dengan alas kaki, kau bisa saja seketika berlari sehingga panas itu tak kau rasakan sedikitpun.”
                                                                        ***
Tiada hari tanpa persoalan, masalah serasa datang silih berganti. Satu hal yang amat menyakiti, kesendirian. Segala masalah kukira, akan jadi mudah jika ada banyak orang yang selalu menemani dan mendukung kita. Tapi, sendiri? bagaimana bisa seseorang melewati masalahnya?. Tidak ada tempat untuk berbagi, meminta saran atau solusi mengenai masalah yang lagi dihadapi. Aku merasakan hal itu, di tempat aku tinggal hanya ada satu petak ruangan dan berisi barang-barang yang semuanya benda mati. Hanya aku yang hidup karna aku seorang manusia. Aku tidak mungkin berbicara dengan benda-benda mati itu, hal yang percuma pikirku. Sampai aku berteman dengan sepi. Ia mau jadi pendengar setiaku, mendengar keluh kesahku. Ia pernah bilang, bahkan sebelum aku memberitahunya pun ia sudah tahu apa yang hendak aku bicarakan. Ia hanya menegaskan karna ia adalah sesuatu yang telah hidup di dalam jiwaku jadi mana mungkin ia tak tahu segala isinya.
“Dengar. Meskipun namaku sepi tapi aku bahagia. Tuhan menciptakanku tidak sia-sia karna aku dihadirkan untuk menemanimu. Nanti, saat kau tidak lagi merasakan kesendirian dan semangat lagi menapaki hidupmu. Aku akan pergi karna memang begitulah seharusannya. Aku bisa merasakannya, hatimu semakin kuat saja dan perlahan keadaanmu membaik. Aku yakin tak lama lagi kau akan dapatkan impianmu. Kau lebih tegar dari yang kutahu. Aku bisa lihat itu dari matamu. Berjuanglah untuk cita-citamu. Akan ada saatnya dimana masalah bereinkarnasi menjadi sebuah keajaiban. Memberikan harapan baru bagimu dan membuatmu tersenyum lagi.”
Kau benar, iya. Aku semakin tegar dan tidak mudah lagi menangis. Itu semua juga berkat kehadiranmu. Kau menunjukkanku cahaya itu di mana harapan mengundangku untuk melintasi jalannya. Dan ketika aku mulai meniti jalan itu, kutahu kau mulai jarang menemaniku. Aku hanya melihatmu sesekali dan hilang tanpa kusadari. Tapi kaki ini ingin selalu berjalan, melangkah ke depan sehingga aku tetiba mengabaikanmu. Aku tidak ingin melihat ke belakang karna kau juga mengajarkanku itu. Aku tahu kau ada di belakangku atau juga tidak pada saat itu. Yang jelas cahaya itu kini makin benderang di depanku. Aku mengikutinya dan merengkuhnya. Aku memasuki suasana di mana semua orang bahagia karna kehadiranku. Aku tidak lagi sendiri. Iya.
Terimakasih sepi, aku banyak belajar darimu :)