Jumat, 04 Juli 2014

-Puisi untuk buruh-



4 Juli 2014
 
Teruntuk buruh tangerang
Aku miris melihat jari-jarimu tersayat-sayat
Sebelah kanan pisau dan sebelah kiri bawang
Beratus-ratus bahkan beribu-ribu
Kau babat habis kulitnya hingga buat ia bertelanjang
Lihat! Matamu tersayup-sayup
Kadang mengatup kadang mekar
Kau, si buruh bawang

Teruntuk buruh tangerang
Berdiri seharian, apa tak letih?!
Dalam ruangan panas dan kerja berjejal
Menunggu pakaian tak bermotif datang
Dan sigap untuk di beri warna
Istirahat, makan berebutan
Makannya cuma nasi pakai gorengan
Kau, si buruh sablon

Teruntuk buruh tangerang
Kau merakit barang yang sudah ada
Dengan cepat, cepat secepat kilat
Membungkusnya jadi rapi
Memilah barangkali ada yang salah
Sedikit saja, kau langsung kena marah
Waktu kau habiskan untuk buang tenaga
Kau, si buruh pabrik

Kau lebih senang kerja begini
Setiap bulan yang penting dapat upah
Walau tidak seberapa
Dengan baju seragam kebanggaan
Ada biru, hijau, kuning dan masih banyak lagi
Setiap hari hidup cuma pas-pasan
Pas untuk makan, pas untuk bayar kontrakan
Mesti irit jika sudah tanggung bulan
Gelagapan jika gaji tak datang-datang
Pinjam kesana-kemari untuk beli susu si bayi
Perut keroncongan, makan tinggal asal

Setahun sekali dapat THR
Langsung habis beli baju lebaran
Uang di kantong tak pernah bisa tebal
Setiap yang masuk keluar dan keluar lagi

Buruh! Tidak!
Para karyawan!
Sampai kapan Negara kita jadi Negara berkembang?!
Mari bersatu rapatkan barisan
Takut? Mati saja!
Ayo!!




–Cerita Ibu-



3 Juli 2014
Waktu itu aku sedang sibuk menantikan jam pulang. Di atas bangku, aku duduk tak keruan. Pak dosen terus saja meceracau walau sebenarnya sudah tiba waktu pulang. Bibirku mengatup dan serasa terhirup kedalam mulutku sendiri. Tanganku sebentar-sebentar mengepal lalu kemudian bertopang dagu. Tatapanku tak tertuju pada penjelasan pak dosen lagi. Heran aku, rasanya bapak itu begitu senang mengajar hingga harus meluangkan waktu dengan sedikit menambah jam terbangnya. Mataku melirik ke kanan, ke kiri dan ke depan secara berulang hingga bosan akhirnya aku jadi seperti orang linglung. Aku jadi melamun atau jika pak dosen menatap ke arahku, aku lantas berpura-pura memberikan kesan jenius. Dan ketika bapak itu menuju ke arah lain, aku kembali lagi pada posisi nyamanku, layu dengan tatapan kosong. Menyeringai halus dalam diam.
“Ibu, pasti sudah menungguku disana” gerutuku dalam hati. Bagaimana ini, di satu sisi aku tak ingin mengganggu jalannya perkuliahan namun di lain sisi dan pastinya yang timbangannya lebih berat, aku juga tidak ingin membiarkan ibu sendirian terlalu lama menunggu. Akhirnya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Pak dosen melongok jam tangannya, ia sadari waktu ternyata sudah lewat jam 10.
Di stasiun Manggarai, kami bertemu. Aku melihat ibu sudah terduduk di depan pintu masuk stasiun. Aku masih ingat, Ibu memakai baju bunga-bunga berwarna biru tua dan celana legging hitam berbalut kerudung oranye di kepala. Seperti itu gaya ibuku, casual dan asal tembak warna yang penting dipakainya nyaman. Kami bercengkrama sebentar sebelum pergi dan kembali ke tempat kosanku. Ibu selalu saja memiliki cerita jika bertemu denganku. Beliau menceritakan segala hal yang terjadi di rumah. Biasanya mengenai kakak atau keadaannya sendiri yang kesepian karna tak ada aku.
Kakak, ya. Ia kakakku satu-satunya, perempuan, Ia sedang mengandung sekitar lima bulan. Ibu bercerita tentang keadaan kakak yang tidak lagi muntah-muntah seperti pada awal kehamilannya. Syukurlah. “Maafkan ibu ya, karna ada suami kakakmu makanya kau tak bisa berkunjung dulu ke tangerang.” Kata ibu sembari menatapku dengan sayu. “Tak apa bu tak apa yang penting semuanya baik-baik saja.” Sambil ku genggam tangan ibu berharap dirinya tak akan merasa sepi lagi.
Aku tidak bisa menceritakan terlalu jauh mengenai kakak iparku. Yang jelas, tempat tinggal kami di tangerang tak bisa dikatakan layak jika mesti menampung lebih dari tiga orang. Rumah kontrakan, ya, dengan tiga petak kamar dan satu kamar mandi menempel dengan tembok dapur. Bukannya, aku juga tak ingin pulang namun aku hanya tak ingin mengganggu ketentraman keluarga kakakku. Dan lagi dengan keadaan kakak yang pastinya perlu mendapatkan perhatian khusus dari suaminya. Kata orang, wanita yang sedang hamil itu lebih labil jiwanya dan seharusnya disaat begitu suaminyalah yang setia mendampinginya supaya mendapatkan kasih sayang dan perhatian.
                                                                        ***
Ku tenteng bawaan ibu dan kami mulai pergi meninggalkan stasiun. Kantong kresek, itulah yang selalu di bawa ibu. Biarpun ada tas yang kurasa amat layak di pakai namun ibu tetap menggunakan kantong itu dan membiarkan tasnya menganggur di rumah tak terpakai. di dalamnya ibu membawa beras satu liter dan pakaian gantinya untuk menginap semalam di kosanku. Ibu pernah bilang, “Sengaja ibu memakai kantong kresek, ini ibu lakukan supaya tak akan ada yang berani menjambret tas ibu.” Ibu, ibu. Tapi, bukankah justru yang seperti ini resikonya lebih besar. Karna menurutku, tas plastik ini kan lama-kelamaan akan rapuh dan cepat rusak. Kalau sudah rusak, ia dapat mudah sobek dan nantinya barang-barang yang ibu bawa malah terjatuh di jalan. Aku pernah memberitahu ibu perihal resiko itu, namun jawaban ibu “Tenang saja, ibu kan sudah mendobelnya jadi tak akan masalah.”
“Ya sudah kalau memang begitu menurut ibu” jawabku pasrah.
Di kosan, kami melanjutkan lagi pembicaraan yang sempat tertunda tadi. Maklum, kami tak biasa berbicara jika dalam angkutan umum ataupun di depan khalayak ramai. Ibu memulai satu kata dengan garang. “Sudah, jika kau ingin pulang pulanglah! Abaikan kakak iparmu.”
“Kau tahu? Ibu juga bosan di sana. Selain tak ada kau juga karna ibu tak bisa menonton televisi. Yang benar saja, masa hingga tivi saja dikuasai olehnya!
“Ah! Ibu tak sabar ingin kau cepat-cepat lulus dan bisa segera bekerja. Setelah itu kau mengumpulkan uang banyak dan kita beli rumah untuk kita berdua saja. Ibu selalu membayangkan itu, melihat kau akan bahagia bisa menjajani dirimu sendiri sesuka hatimu. Tidak seperti sekarang. Ibu tahu, kau pasti merasakan kesusahan bukan? Dengan berbekal uang saku yang tak seberapa dari ibu dan kau mesti selalu irit memakainya.” Ibu terhenti sejenak dan mengusap air matanya yang perlahan membasahi pipinya.
“Ibu tahu, kau ingin seperti anak-anak lainnya. Menikmati masa muda dengan bersenang-senang, memakai pakaian bagus, melakukan segalanya sesuai keinginanmu. Bertualang ke berbagai tempat dan berlibur bersama teman-temanmu. Tapi, gara-gara ibumu yang bukan orang kaya kau jadi terkena imbasnya. Kau harus hidup serba pas-pasan setiap harinya. Ibu tak pernah bisa membahagiakanmu bahkan dari kau balita, kau sudah hidup apa adanya.”
Aku hanya menjawabnya dengan kata-kata yang sama. Ibu juga, selama hidupmu, ibu tak pernah merasakan kebahagiaan bukan?. Tahukah ibu? Kau justru sudah terlalu berlebihan memanjakanku. Kau banting tulang dari dulu untuk menghidupi kakak dan aku. Bersusah payah, pergi di gelap hari dan pulang juga langit tak benderang. Untuk apa semua itu? Supaya kakak dan aku bisa hidup layak seperti anak-anak lainnya. Jika ada manusia yang paling tangguh dan lembut hatinya, itu kau ibu. Tidak ada yang lain.
Ibu bercerita lagi tentang masa kecilnya. Beliau sudah mulai bekerja, mencari nafkah sendiri semenjak kelas empat di bangku sekolah dasar. Kerjanya serabutan, membantu nenek, sesekali menanam sayuran di lahan orang lalu jika sudah masak di jual ke kampung-kampung. Kerja apa saja yang penting halal, tapi lebih berhubungan kepada pertanian. Pergi ke sekolah dengan menaiki sepeda atau juga jalan kaki berkilo-kilo jauhnya. Setelah pulang, bekerja lagi membantu nenek. Tak putus-putus, sekeras itu kegiatanmu pun setelah menikah dan memiliki anak.
Makin jadi sakitmu, aku tahu itu setelah ayah pergi meninggalkanmu. Ah! Sebenarnya aku tak ingin membahasnya lagi. Tapi, yang aku heran aku tak pernah melihatmu menangis saat itu. Apa kau sengaja menyembunyikannya?
                                                                        ***
Kini, kau semakin layu. Keriput sudah berkeliaran di mana-mana, di setiap sisi tubuhmu. Di tanganmu, kakimu dan juga di wajahmu. Mulai terlihat juga bintik-bintik penuaan dan garis berlipat di ujung matamu. Kecantikanmu seraya memudar, tapi tidak senyummu ibu.
Jalanmu tak segagah dulu. Aku ingat, setaip kali aku berjalan bersamamu pastilah aku terdahului. Kau selalu bilang, aku lamban dan ibu tak bisa menungguku terus. Bisa-bisa segalanya jadi terlambat karna aku.
Jadi terlintas dalam pikiranku, sebuah pertanyaan. “Mengapa manusia begitu cepat menua?”
Aku melihat wajahmu tak henti-henti. Dalam lelapmu, kau begitu tenang. Kelelahan dan kepayahan, kutahu. Tapi kau menapiknya. Lihat! Kelopak matamu yang lagi terkatup itu membusung ke dalam jadi bulatan kawah yang begitu cekung. Dan kau terbangun seketika. Aku pun membuang pandangku. Kau mulai bercerita lagi. Kali ini ibu ternyata lebih pasrah. “Mengapa aku mesti berlarut-larut dalam kenestapaan ini? Toh, ini semua belum juga ditakdirkan untuk berubah jadi indah.”
“Jangan pikirkan lagi, sudah. Perkataan orang juga. Jangan dihirauan ya!. Kebalkan dirimu dari ocehan tetangga. Buat dirimu sendiri tersemangati oleh cerita-ceritaku tadi. Kamu sudah mengetahui segalanya. Tentang saudara-saudaramu juga, bibi-bibimu. Tidak ada satupun dari kakak-kakak ibu yang bahagia hidupnya. Mereka semua bahkan mengecap pahit yang lebih dalam dari ibu. Beruntung ibu masih memiliki mereka dan status ibu juga sebagai adik terbungsu. Jadi masih ada yang menasehati dan membantu ibu. ”
Aku mengerti. Cerita, ya. Semua itu akan menjadi pengalaman. Dan pegalaman itu adalah guru terbaik kita. Mengajari kita bukannya untuk mengukung terus diri dalam penjara jiwa sendiri. Terperosok dan menerima jatuh hingga ke jurang yang terdalam. Bukan. Tapi, itu semua sebagai proses. Proses hidup yang memang mesti dijalani setiap orang. Tak terkecuali. Bisa jadi ada yang lebih getir perjalanan hidupnya. Bahkan hingga tak punya kendali dan mati sia-sia.
Tuhan, ya. Bercerita saja padanya. Sang khalik akan senantiasa mendengar hamba-nya. Karna dia yang Maha Kasih dan Maha Penyayang.
Terima kasih ya Allah dan Ibu atas ceritamu J

Kamis, 03 Juli 2014

‘Sepi’ namanya

-2 Juli 2014-
Kesendirian yang menyesakkan, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain terus bersamanya. Menjamahnya hingga ia menelusup jauh ke dalam batinku. Aku sengaja membiarkannya bermain-main di dalam hatiku, berlarian kesana-kemari. Biarpun cuma sepi, tapi ia ada dan hidup dalam relung hatiku. Setidaknya dengan begini ia dapat selalu menemaniku kapanpun aku menangis atau diam tak bersuara. Ia yang lagi bermain-main menarik perhatianku, seketika aku terbius dan ikut bermain dengannya. Aku diajaknya pergi ke tempat-tempat yang bagiku begitu istimewa, aku mendengarnya bernyanyi dan menyaksikannya bercerita. Tapi, dari semua kegiatannya ia lebih sering bercerita. Katanya, bercerita adalah hal yang paling baik dilakukan ketika seseorang telah banyak menyimpan sesuatu. Biasanya ia bercerita tentang petualangannya, perjalanannya yang katanya begitu panjang atau tentang awal bagaimana ia terlahir. Aku selalu mendengarkannya, menyimak setiap kalimat yang ia ucapkan. Apalagi yang harus kulakukan? Kupikir ini lebih baik, daripada aku merana dalam kesendirianku, seorang diri. Terkadang aku hampir mati dalam keadaan begini. Aku hanya bisa berkoar sendiri, menangis lalu terdiam dan berulang seperti ini setiap kali aku sendiri. Sedih, miris.
Katanya, ia terlahir karna panggilan. Ia memberitahuku bahwa jiwaku yang memanggilnya kemudian ia tercipta dan datang untuk menemaniku. Tangan jiwaku menggenggam erat tangannya, lalu seketika mengajaknya pergi untuk tinggal bersama jiwaku. Ia tidak menyesal ataupun berontak, justru ia senang memiliki teman seperti jiwaku. Belum ada yang bahagia secara tiba-tiba melihat keberadaanya, sebagaimana bahagianya yang ditampakkan oleh jiwaku. Senyum jiwaku buat ia luluh dan dengan begitu saja menuruti permintaan apa maunya jiwaku.
Lalu katanya, sebelum aku menyadari kehadirannya. Ia sempat bertualang kesana kemari. Melanglang buana hampir ke seluruh tempat di dunia. Ia tidak ingin memaksaku yang belum tahu apa-apa. Ia juga tidak ingin meminta-minta dan berharap yang mengemis-emis supaya aku menemaninya. “Biar aku tunggu hingga kau menyadari keberadaanku”, katanya.
Ia melanjutkan ceritanya, tentang destinasinya dan tentang perasaannya ketika melakukan itu. Ia bilang, ia sangat menikmatinya. Perjalanan yang panjang dan menyenangkan. “Aku bertemu banyak orang dan semuanya mengesankan” tukasnya. Matanya kini menerawang jauh sekali seolah ia merasakan kembali pengalamannya itu. “Pertama kali memutuskan untuk bertualang, aku pergi saja tanpa tahu tempat itu apa namanya bahkan hingga sekarang kukira aku belum juga mengetahui nama tempat yang pertama kali ku kunjungi itu.
“Aku melihat bentuk senyum terbalik di awan, lengkungannya indah dan ia memiliki beraneka warna. Ia seperti menerobos di sela-sela awan, lalu aku mengamatinya, mengikuti arahnya di mana ia berujung. Panjang sekali, ternyata ujungnya bersentuhan dengan air, air yang deras, besar dan keras jatuhnya. Dulu, aku belum tahu apa namannya itu tapi, sekarang aku tahu bahwa yang memiliki warna bermacam-macam itu adalah pelangi dan air yang besar itu namanya air terjun. Oh, aku seakan terpesona, indah sekali. Aku tidak henti-henti melihatnya bahkan untuk beranjak barang sebentar rasanya aku enggan. Lama kelamaan, pelangi itu warnanya memudar dan hilang. Saat itu, aku serasa dicampakkan. Ah! Mengapa ia mesti hilang? Apa ia tak suka bila aku melihatnya lama-lama?!
“Dari situ aku mengerti, tiba-tiba saja. Pernah terngiang dalam ingatanku ada seseorang yang bicara perihal keadaan di dunia. Aku, mengapa bisa dapat ilham itu mungkin karna aku sesuatu yang terlahir dari reinkarnasi juga. Katanya, dunia itu palsu belaka dan kamu hanya diuji hidup di dalamnya. Mungkin ini maksudnya, bahwa keindahan dunia itu hanya sementara tidak akan selamanya.”
Seperti itulah jika ia berbicara, seperti sedang berkhutbah. Kemudian ia bercerita tentang perasaannya. Ia sempat merasa kesepian juga, katanya. Nah! Sepi juga dapat merasakan sepi. Jika ia kembali ke tempatku dan melihatku, ingin rasanya ia memelukku. Memberitahuku bahwa aku yang selalu menemanimu, kemari bersamaku. Tapi, selalu ia urungkan niat itu. Kala itu, ia melihatku sedang bahagia, teramat bahagia setiap hari sepanjang waktu. Ia tak ingin mengusikku biar sedetik pun.
“Saat itu, aku tak lantas meratap. Aku pergi lagi. Berjalan saja, berlalu supaya tak melihatmu dulu tapi, aku akan menjagamu dengan telepati. Aku bertemu nenek tua, ia sangat renta. Jalannya membungkuk, ada gundukan di punggungnya yang membuat ia sulit untuk berdiri tegak layaknya manusia-manusia lain. Ia memakai tongkat dan jalannya selalu terengah-engah. Ia tak bisa sering melihat ke depan, karna persoalan bungkuknya tadi. Ia lebih banyak menunduk jika ia kelelahan menghadap ke depan. Melalui tongkatnya ia raba tubuh jalanan. Aku tahu ia sangat lelah, lelah sekali.
“Dari situ aku memahami satu hal lagi. Hidup itu akan semakin sulit jika seseorang yang tertimpa masalah terus saja mengeluh. Betapa mengerikannya saat kau meniti arang panas dan kau egois inginnya bertelanjang kaki. Padahal dengan alas kaki, kau bisa saja seketika berlari sehingga panas itu tak kau rasakan sedikitpun.”
                                                                        ***
Tiada hari tanpa persoalan, masalah serasa datang silih berganti. Satu hal yang amat menyakiti, kesendirian. Segala masalah kukira, akan jadi mudah jika ada banyak orang yang selalu menemani dan mendukung kita. Tapi, sendiri? bagaimana bisa seseorang melewati masalahnya?. Tidak ada tempat untuk berbagi, meminta saran atau solusi mengenai masalah yang lagi dihadapi. Aku merasakan hal itu, di tempat aku tinggal hanya ada satu petak ruangan dan berisi barang-barang yang semuanya benda mati. Hanya aku yang hidup karna aku seorang manusia. Aku tidak mungkin berbicara dengan benda-benda mati itu, hal yang percuma pikirku. Sampai aku berteman dengan sepi. Ia mau jadi pendengar setiaku, mendengar keluh kesahku. Ia pernah bilang, bahkan sebelum aku memberitahunya pun ia sudah tahu apa yang hendak aku bicarakan. Ia hanya menegaskan karna ia adalah sesuatu yang telah hidup di dalam jiwaku jadi mana mungkin ia tak tahu segala isinya.
“Dengar. Meskipun namaku sepi tapi aku bahagia. Tuhan menciptakanku tidak sia-sia karna aku dihadirkan untuk menemanimu. Nanti, saat kau tidak lagi merasakan kesendirian dan semangat lagi menapaki hidupmu. Aku akan pergi karna memang begitulah seharusannya. Aku bisa merasakannya, hatimu semakin kuat saja dan perlahan keadaanmu membaik. Aku yakin tak lama lagi kau akan dapatkan impianmu. Kau lebih tegar dari yang kutahu. Aku bisa lihat itu dari matamu. Berjuanglah untuk cita-citamu. Akan ada saatnya dimana masalah bereinkarnasi menjadi sebuah keajaiban. Memberikan harapan baru bagimu dan membuatmu tersenyum lagi.”
Kau benar, iya. Aku semakin tegar dan tidak mudah lagi menangis. Itu semua juga berkat kehadiranmu. Kau menunjukkanku cahaya itu di mana harapan mengundangku untuk melintasi jalannya. Dan ketika aku mulai meniti jalan itu, kutahu kau mulai jarang menemaniku. Aku hanya melihatmu sesekali dan hilang tanpa kusadari. Tapi kaki ini ingin selalu berjalan, melangkah ke depan sehingga aku tetiba mengabaikanmu. Aku tidak ingin melihat ke belakang karna kau juga mengajarkanku itu. Aku tahu kau ada di belakangku atau juga tidak pada saat itu. Yang jelas cahaya itu kini makin benderang di depanku. Aku mengikutinya dan merengkuhnya. Aku memasuki suasana di mana semua orang bahagia karna kehadiranku. Aku tidak lagi sendiri. Iya.
Terimakasih sepi, aku banyak belajar darimu :)

Rabu, 21 Mei 2014

Bagaimana bisa...

Bagaimana aku dapat mencintai sementara kau yang lagi kesepian makin merana tak ada teman
Terpaku sendirian, cuma angin yang berlalu-lalang tapi tak pernah kau hiraukan
Bagaimana aku dapat mencintai sementara kau yang ditinggalkan bisa saja makin meradang
Sakitnya, hampanya, ‘apa aku mesti sendirian’ ‘mengapa dunia begitu kejam’ dan kau pun bertanya
Bagaimana bisa selama ini, aku merasakannya sementara aku tahu ada kau yang selalu mengasihi dan begitu saja tak ku acuhkan
Menungguku di muka pintu, rindu, melihat aku pulang
Memelukku, mencium keningku, dan berkata ‘kau bertambah besar’
Bagaimana bisa selama ini, aku menyimpan dan memeliharanya, baik, tumbuh subur dikelilingi bunga-bunga
Sementara aku mengerti, ya aku mengerti, jalanmu yang panjang, berliku dan penuh terjal tak pernah berwarna, marun apalagi toska
Kelabu mengusik pandangan, jauh dan melelahkan
Bagaimana bisa aku banyak berkata bukan buatmu, bukan bagimu
Rangkaian yang indah-indah, yang dibenakku bukan kamu, kutelantarkanmu seketika
Bagaimana bisa aku mencampakkanmu bahkan aku tak tahu
Aku mulai hilang dari masa lalu
Aku membencinya tapi Cuma air mata yang berlinang jika aku lihat kamu
Ternyata waktu lebih kejam, berjalan terus biar ditimpa hambatan
Kau tersiksa, aku bisa dengar isak tangis bahkan dari senyummu yang syahdu
Menyuruhmu untuk lupakan saat kau lagi tersedu-sedan
Dasar! Bisanya Cuma meninggalkan dan lari tak kelihatan
Lalu, ia yang dibenakku nyatanya maya, semu, aku bodoh
Aku juga kurang cinta, kurang kasih
Ah! Rasanya aku makin bodoh!
Biar kupeluk kamu, kucium keningmu, lalu kita bergurau seperti dulu
Di waktu itu, di saat yang jauh, lama berpaling dari ingatan
Tidak indah memang, tapi setidaknya menyisakan cerita dan dapat dikenang lagi
Itu akan lebih buruk jika kita coba untuk menodainya
Sudah sakit malah tambah dibuat sakit!
Cinta…
Mungkin kau tidak lagi menginginkannya
Di usiamu yang senja, ‘biar kuluputkan saja dari memori’ katamu dalam hati
Lalu, seandainya datang lagi, kau akan tertawa, diam, ‘jalannya sudah berbeda, aku telah menemui yang sebenarnya dari kehidupan’
Biar ku teruskan,
Masa lalu, aku sudah lebih dewasa sehingga rela melepasmu, mencabik sendiri jiwaku yang tak waras kala terasing dalam kesunyian
Mengharapkanmu kembali, bersamaku, berjalan hingga senja kini menghampiri kita
Tangisku makin meradang, pikiranku berkecamuk, gelisah, sesak tak bisa mengembus apalagi menghirup
Dan, kata-kata itu hanya bersembunyi dalam hati
Kini, kita tak perlu lagi mencari, berambisi
Datanglah sesukamu
Pergilah jika kau mau pergi
Ini masih jadi rumahmu dan akan selalu jadi rumahmu

Selasa, 04 Maret 2014

Kerinduan (Sederhana)



Kamu,
Tidak tahu betapa rindunya aku
Biar dikata sebentar tapi aku tetap rindu
Mau kau bilang dekat tapi ini tetap namanya rindu
Bahkan kau tidak bisa menggantinya
Memberi yang lain selain dari yang kurindu

Sesempit pun ruang di dunia ini
Sejengkal pun jarak yang ditempuh
Tetap tidak bisa jadi penawar rindu yang kumaksud
Dalam,
Menjadi lebih ketika tak berharga lagi
Perih, bahkan pun tak jadi berarti

Aku rindu,
Melihat senyummu
Aku rindu
Memandang wajahnya yang lama
Aku rindu
Mendengar suara dan renyah tawamu
Aku rindu
Ingin lagi berada didekapmu
Aku rindu, ya.
Cuma itu yang paling berkesan bisa temani aku